Kamis, 02 September 2010

“ IKUT SERTA DALAM PERAYAAN HARI RAYA NON MUSLIM “


“ IKUT SERTA DALAM PERAYAAN HARI RAYA NON MUSLIM “

Segala Puja dan Puji hanya milik Alloh Subhanaahu’ Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampun kepada-Nya, kita berlindung kepada-Nya dari keburukan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh Subhanaahu’ Wa Ta’ala, maka tidak ada yang memberi petunjuk kepada-Nya, Kita bersaksi tidak ada yang berhaq disembah melaikan Alloh satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi bahwa Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du.
“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam “. (QS. Ali-Imran: 102).
“ Sebaik-baik petunjuk adalah Kitabulloh (Al-Qur’an), serta sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam yakni Sunnahnya, dan seburuk-buruk perbuatan dan perkataan ialah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan ialah Bid’ah dan setiap keBid’ahan itu sesat serta setiap kesesatan itu ialah tempatnya di dalam Naar (Neraka) “. (Al-Hadist).
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallohu’ Anhum, bersabda Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam: “ Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka “. (Hadish Shahahih Riwatat (HSR). Ahmad Juz.2/Hal.50, Abu Dawud No. 4031, Thabrani dari Hudzaifah, Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Kitabul Jihad dalam Kitab Shahihul Jami’, Karya: Syaikh Al-Muhadist Muhammad Nashiruddin Al-AlBani Rahimahulloh No. 2831 dan 6149).
Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh
Sesungguhnya di antara konsekwensi terpenting dari sikap membenci orang-orang Kafir adalah menjauhi syi’ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi’ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya. Ada seorang lelaki yang datang kepada baginda Rasul ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam menanyakan kepadanya. “Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyyah yang disembah? “. Dia menjawab, “ Tidak “. Beliau bertanya, “ Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka? “ Dia menjawab, “ Tidak “. Maka Nabi bersabda, “ Tepatilah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Alloh dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam “. (HR. Abu Dawud dengan sanad yang sesuai atas syarat Al-Bukhari dan Muslim).
Hadist diatas menunjukkan, tidak bolehnya menyembelih untuk Alloh bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk selain Alloh; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar mereka, dan juga karena menyerupai mereka atau menjadi wasilah yang mengaantaarkan kepada syirik. Begitu pula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala’ (loyalitas) kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar mereka. Termasuk perkara yang dilarang adalah menampakan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan, libur sekolah, memasak makanan-makana sehubungan dengan hari raya mereka. Diantaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para Shahabat dan Salafush Shalih menggunakan kalender Hijriah sebagai gantinya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berkata, “ Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan: Pertama, bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiasaan Salaful Ummah/Salafush Shalih. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat mashlahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketetapan semata, bukan karena mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari’atkan adalah menyelisihinya karena dengan menyelisihinya terdapat mashlahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan mashlahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apapun, terlebih lagi kalau dia melakukannya. Alasan kedua, karena hal itu adalah bid’ah (hal-hal/peribadatan yang baru) yang diada-adakan. Alasan ini jelas menujukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu. Demikian Imam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh.
Beliau juga mengatakan, “ Tidak halal bagi kaum Muslimin bertasyabuh (menyerupai) merek dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi’ar mereka pada hari itu. Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja, maka berbgai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh. Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap kafir orang yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran daan kesyirikan. Segolongn ulama mengtakan. “ Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi “. ‘Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “ Siapa yang mengikuti negara-negara ‘ajam (non Islam) dan melakukan perayaan Nairuz (akhir tahun) serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia, sedang dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat.
Pasal Pelarangan. Merayakn hari-hari besar orang-orang kafir juga dilarang karena alasan-alasan yang banyak sekali, di antaranya: {a}. Menyerupai mereka dalam sebagian hari besar mereka mengandung konsekwensi bergembira dan membuat mereka berlapang dada terhadap kebatilan yang sedang mereka lakukan. {b}. Menyerupai mereka dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat lahiriah akan mengandung konsekwensi menyerupai mereka pula dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat batiniah berupa aqidah-aqidah batil melalui cara-cara halus yang bertahap lagi tersembunyi. Dampak negatif yang paling besar dari hal itu adalah menyerupai orang-orang kafir secara lahiriah akan menimbulkan sejenis kecintaan dan kesukaan serta loyalitas secara batin. Mencintai dan loyal terhadap mereka menafikan keimanan sebagaimana firman Alloh dalam QS. Al-Ma’idah: 51 dan QS. Al-Mujadilah: 22.
Seorang muslim tidak boleh saling tolong menolong dengan orang-orang kafir dalam bentuk apapun dalam hari-hari besar mereka. Contohnya dalam bentuk mengajak pada hal itu dengan sarana apapun baik melalui mass media, memasang jam-jam dan pamflet-pamflet bertuliskan angka, membuat pakaian-pakaian dan plakat-plakat kenangan, mencetak kartu-kartu dan buku-buku tulis sekolah, memberikan diskon khusus pada dagangan dan hadiah-hadiah uang dalam rangka itu, kegiatan-kegiatan olah raga ataupun menyebarkan simbol khusus untuk hal itu. Seorang Muslim tidak boleh menganggap hari-hari besar orang-orang kafir, sebagai momentum yang membahagiakan atau waktu-waktu yang diberkati sehingga meliburkan pekerjaan, menjalin ikatan perkawinan, memulai aktifitas bisnis, membuka proyek-proyek baru dan lain sebagainyaa. Tidak boleh dia meyakini bahwa hari-hari seperti itu memiliki keistemewaan yang tidak ada pada hari selainnya karena hari-hari tersebut sama saja dengan hari-hari biasa lainnya, dank arena hal ini merupakan keyakinan yang bathil (rusak) yang tidak dapat merubah hakikat sesuatu bahkaan keyakinan seperti ini adalah dosa di atas dosa.
Fatwa Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahulloh
Seorang Muslim tidak boleh mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar orang-orang kafir karena hal itu merupakan bentuk kerelaan terhadap kebathilan yang tengah mereka lakukan dan membuat mereka bergembira, karenanya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata: “ Adapun mengucapkan selamat terhadap syi’ar-syi’ar keagamaan orang-orang kafir yng khusus bagi mereka, maka haram hukumnya menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat dalam rangka hari-hari besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan ‘ semoga hari besar ini diberkati ‘ atau ucapan semisalnya dalam rangka hari besar tersebut. Dalam hal ini, kalaupun pengucapnya lolos dari kekufuran akan tetapi dia tidak akan lolos dari melakukan hal yang diharamkan. Hal ini sama posisinya dengan ucapan selamat karena dia (orang kafir) itu sujud terhadap salib. Bahkan, dosa dan kemurkaan terhadap hal itu lebih besar dari sisi Alloh ketimbang mengucapkan selamat atas minum khamr, membunuh jiwa yang tidak berdosa, berzina dan semisalnya.
Banyak sekali orang yang tidaak memiliki sedikit pun kadar dien (agama) pada dirinya, sehingga menyeret dirinya dan dia tidak menyadari jeleknya perbuatan sendiri. Maka, siapa saja yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena suatu maksiat, bid’ah atau kekufuran yang dilakukannya, berarti dia telah mendapatkan kemurkaan dan kemarahan Alloh. Adalah suatu kehormatan bagi kaum Muslimin untuk berkomitmen terhadap sejarah hijrah Nabi mereka Muhammad Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam yang disepakati pula orang para shahabat beliau Ridhwanullohi ‘Alaihim ‘Ajmain diteruskan secara turun temurun oleh kaum Muslimin yang datang setelah mereka, sejak 14 abad yang lalu hingga saat ini. karenanya seorang Muslim tidak boleh mengalihkan penggunaan kalender Hijriah kepada kalender umat-umat selainnya, seperti kalender Masehi ini; karena termasuk perbuatan menggantikan yang lebih baik dengan yang lebih jelek. Sekian Risalah singkat ini, Fastabiqul Khoirot (mari kita berlomba dalam kebajikan), semoga dapat bermanfaat. Wallohu’ Ta’ala a’lam bish Showab, Nuun Walqolami’ wamaa’ Yasthuruun, Subhanakallohhumma’ Wabihamdhikaa’ Ashadu’ala ilaahaa’ illa Anta Astaqfirukaa Wa’athubuh ilaa’ikaa. Washallallaahu’ ala nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahhbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil’ Alamien.

Maraji’ alias Catetan Kaki:

• Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta’ (Lembaga Riset Ilmiyyah dan Fatwa) Kerajaan Saudi Arabia (KSA), No. 21049.
• Kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-‘Aliy, Penulis: Al-Allamah Fadhilatush Syaikh Prof. DR. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan Hafidzhahulloh (Guru Besar Universitas Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Al-Islamiyyah, Kerajaan Saudi Arabia).
• Kitab Huquq da’at ilaihal fitrah, Penulis: Al-Allamah Fadhilatush Syaikh Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahulloh (Mantan Anggota Ha’iah Kibarul Ulama {Markaz Ulama Besar} Kerajaan Saudi Arabia).
• Kitab Muqarrarut Tauhid Kitab Ta’limi Lil Mubtadi’in, Penulis: Al-Allamah Fadhilatush Syaikh DR. Abdul Aziz bin Muhammad ‘Allu Abdul Latief Hafidzhahulloh (Guru Besar Universitas Islam Madinah).
• Kitab Audatul Hijab, Penulis: Al-Allamah Fadhilatush Syaikh Al-Faqih DR. Muhammad bin Ahmad bin Ismail Al-Muqaddam Rahimahulloh.
• Kitab Al-Mulakhas Al-Fiqhiy, Penulis: Al-Allamah Fadhilatush Syaikh Prof. DR. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan Hafidzhahulloh, dll

Created By: Bapak. Muhammad Faisal, SPd, Al-Akh Mashuri serta
Santri KH. Ahmad Dahlan, Bekasi

Silahkan anda sebarluaskan Tulisan ini kepada saudara Muslim lainnya dan tidak boleh merubah atau mengedit isi tulisan ini tanpa izin dari Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi (GPAPB). Kunjungi Situs Kami di http://fapbekasi.multiply.com/ http://gerakanpelajarantipemurtadan.blogspot.com/ Grup FB (Facebook) Pelajar Melawan Pemurtadan (PMP)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar