Minggu, 26 September 2010

“ Ulang Tahun, Adakah Islam menuntun? “

Bismillahirrohmannirrohim

“ Ulang Tahun, Adakah Islam menuntun? “

(Ulang Tahun ditinjau dari perpektif Syari’at Islam)

Oleh: Kang Faisal al-Jawy

Segala Puja dan Puji hanya milik Alloh Subhanaahu’ Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampun kepada-Nya, kita berlindung kepada-Nya dari keburukan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh Subhanaahu’ Wa Ta’ala, maka tidak ada yang memberi petunjuk kepada-Nya, Kita bersaksi tidak ada yang berhaq disembah melaikan Alloh satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi bahwa Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du.

“ Pada Awal kemunculan Islam Nampak asing dan pada akhirnya akan kembali asing seperti awalnya, maka oleh karena itu bersyukurlah orang yang diasingkan ”. (Al-Hadist dalam Kitab Mukhtashar Kitab Al-I’tisham Karya Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Asy-Syathibi Rahimahulloh pada bab Mukadimah/Pembukaan).

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam “. {QS. Ali-Imran (3): 102}.

“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Alloh menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Alloh memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Alloh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasi kamu “. {QS. An-Nisaa’ (4): 1}.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Alloh memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Alloh dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.{QS. Al-Ahzab (33): 70-71}

“ Sebaik-baik petunjuk adalah Kitabulloh (Al-Qur’an), serta sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam yakni Sunnahnya, dan seburuk-buruk perbuatan dan perkataan ialah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan ialah Bid’ah dan setiap keBid’ahan itu sesat serta setiap kesesatan itu ialah tempatnya di dalam Naar (Neraka) “. (HR. Muslim no. 867).

Agama Islam dibangun di atas dasar ittiba’ (mengikuti) dan kepatuhan pada apa yang disampaikan Alloh dan RasulNya. Sebab sebuah ajaran tidak dapat disebut Ad-Dien kecuali bila didalamnya membawa kepatuhan kepada Alloh Subhanaahu’ Wa Ta’ala dan ittiba’ pada ajaran yang diserukan oleh Rasul-Nya. Sedangkan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad bin Abdullah ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam. Tidak ada satu petunjuk manapun yang melebihi kualitas petunjuknya. Dan barangsiapa berpaling dari tuntunannya, maka ia akan merugi di dunia dan akhirat. “ Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? “. {QS. Al-Maidah (5): 50}.

Namun ternyata iblis -laknatulloh ‘alaihi- tidak pernah berhenti menyesatkan anak cucu Adam agar peralahan-lahan berpaling dari agama Alloh. Dengan berbagai tipu muslihat ia mencoba memalingkan mereka dari cahaya ilmu lalu membiarkan mereka tersesat dan kebingungan dalam gelapnya kebodohan. Melalui celah-celah halus, iblis berusaha menyusupkan bentuk-bentuk amaliah tertentu, yang secara lahiriah memang perbuatan baik, ke dalam agama, sehingga dianggap sebagai bagian dari ajarannya. Padahal, sebenarnya perbuatan tersebut tidak pernah dituntunkan Alloh dan Rasul-Nya. Muncullah, kemudian, berbagai keyakinan dan amalan yang tidak pernah diajarkan Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam. lahirlah i’tiqad (keyakinan) dan perbuatan yang tidak pernah dikenal oleh generasi terbaik ummat ini; generasi As-Salafush Shalih Ridwanulloh ‘Alaihim Azmain. Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Sesungguhnya barangsiapa di antara kamu yang masih hidup (sepeninggalku) maka ia akan melihat berbagai macam perselisihan. (Maka saat itu) ikutilah sunnahku dan sunnah para khulafa’ Ar-rasyiddin yang mendapat hidayah. Gigitlah (sunnah) dengan gigi geraham (berpegang teguh), dan jauhilah perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena setiap bid’ah (perkara yang baru/dibuat-buat) itu sesat “. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan Sanad/Jalur Shahih dalam Buku Ringkasan Al-I’tisham, Karya: Imam Asy-Syathibi, Hal. 51, Terbitan: Media Hidayah, Yogyakarta, 2003).

Pada hadist di atas Rasululloh menyinggung tentang hal-hal yang diada-adakan dalam agama yang tidak memiliki dasar pijikan baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Inilah yang dinamakan bid’ah. Dan setiap muslim yang berbuat bid’ah. Ia akan masuk dalam ancaman Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam,“ Barangsiapa yang membuat-buat hal baru dalam urusan (agama) kami, yang tidak ada keterangan darinya, maka ia tertolak “. (HR. Bukhari dan Muslim). Dan riwayat Muslim yang lain, beliau bersabda, “ Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak dilandasi/tidak sesuai dengan keterangan kami, maka perbuatan itu tertolak “. (HR. Muttafaq’ Alaih yakni Bukhari dan Muslim).

Hadist yang baru saja kita simak ini merupakan landasan penting dalam ajaran Islam. Hadist ini menjadi pedoman standar yang harus digunakan untuk mengukur dan menilai sebuah amalan secara lahiriah, sehingga –berdasarkan hadist ini- amalan apapun dilemparkan kembali kepada pelakunya. Sebuah kesimpulan lain juga bisa ditarik dari hadist ini. Yaitu bahwa perbuatan apapun yang diada-adakan dalam Islam bila tidak diizinkan oleh Alloh dan Rasul-Nya, maka tidaklah boleh dikerjakan betapapun baik dan bergunanya menurut pandangan akal kita. Al-Imam Nawawi Rahimahulloh menjelaskan bahwa hadist yang mulia ini adalah salah satu hadist penting yang harus dihafal dan digunakan untuk membantah dan membatalkan segala bentuk kemungkaran dalam Islam. Saudaraku Muslim yang dicintai Karena Alloh, Marilah kita tanamkan tekad sebesar-besarnya untuk mengkaji, mendalami, melaksanakan dan mendakwahkan As-Sunnah di setiap aspek kehidupan. Kalau prinsip-prinsip ini terealisasi, mudah-mudahan bid’ah-bid’ah yang menodai kehidupan kita dan menghalangi kaum Muslimin untuk meraih kejayaannya, akan terkikis sedikit demi sedikit. Insya’ Alloh.

Saat ini perayaan ulang tahun telah menjadi tradisi yang begitu melekat di tengah masyarakat kita. Bukan hanya perayaan ulang tahun seseorang saja yang sekarang ini dirayakan. Ulang tahun pernikahan, ulang tahun perusahaan, ulang tahun institusi atau badan tertentu, ulang tahun kota, bahkan ulang tahun kemerdekaan sebuah negara pun semuanya diperingati. Berbagai bentuk acara dihelat dalam tradisi perayaan ulang tahun ini. Mulai dari sesi tiup lilin, memotong nasi tumpeng, memotong kue ulang tahun, lomba-lomba, pesta-pesta, dan lain sebagainya. Dalam Islam, hukum merayakan ulang tahun tidak ditemukan pada nash-nash syar’i. Kita tidak menemukan riwayat yang menceritakan bahwa setiap tanggal kelahiran Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam, beliau merayakan atau sekedar mengingat-ingatnya. Begitu juga para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para ulama Salafush Shalih. Kita juga tidak pernah mendengar, misalnya, Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahulloh merayakan ulang tahun lalu potong kue dan tiup lilin. Maka perbuatan ini adalah bentuk bid’ah yang tidak ada tuntunannya dalam Islam.

Syaikh Al-Allamah Prof. DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzhahullah {Syaikh Ibnu Fauzan}(Anggota Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta’/Komisi Riset dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) juga menyatakan, “ Dan yang termasuk kategori mengikuti mereka (orang-orang kafir, pent) di dalam perayaan-perayaan, baik yang bersifat syirik ataupun bid’ah adalah seperti memperingati perayaan-perayaan hari kelahiran, baik kelahiran Nabi Muhammad ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam dan kelahiran para pemimpin atau penguasa. Dan kadang-kadang perayaan-perayaan yang sifatnya syirik dan bid’ah ini diberi nama dengan penyebutan hari-hari atau pekan-pekan. Seperti hari kemerdekaan, hari ibu, hari anak, atau pekan kebersihan “. (Kitab Al-Khutbah Karya Syaikh Ibnu Fauzan, hal. 43). Demikianlah tulisan ini yang kami sampaikan, kalau ada yang benar/haq datangnya hanya dari Alloh Subhanaahu’ Wa Ta’ala Rabb semesta Alam. Dan jika ada yang salah dalam tulisan ini datangnya dari syaithan dan diri kami pribadi. Fastabiqul Khoirot (mari kita berlomba dalam kebajikan), semoga dapat bermanfaat. Wallohu’ Ta’ala a’lam bish Showab, Nuun Walqolami’ wamaa’ Yasthuruun, Subhanakallohhumma’ Wabihamdhikaa’ Ashadu’ala ilaahaa’ illa Anta Astaqfirukaa Wa’athubuh ilaa’ikaa. Washallallaahu’ ala nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahhbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil’ Alamien.

Maraji’ alias Catetan Kaki:

· Al-Qur’an dan Terjemah dari DEPAG RI

· Buku Pokok-pokok Aqidah Ahlus Sunnah, Penulis: Imam Ahmad bin Hanbal, Penerbit; Al-Mubarak (PMR), Bogor-Jawa Barat, Januari 2000.

· Buku Inti Ajaran Islam (Buku Dihadiahkan tidak diperjualbelikan), Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahulloh, Penerbit: Yayasan Makkah Al-Mukarramah, Lebak-Banten, September 2003.

· Buku Menggapai Kehidupan Bahagia (Buku Dihadiahkan tidak diperjualbelikan), Penulis: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahulloh, Penerbit: Yayasan Makkah Al-Mukarramah, Lebak-Banten, September 2003.

· Buku Membantai Ahlul Ahwa dan Bid’ah, Penulis: Tsaqil bin Shalfiq Al-Qasimi, Terbitan: Pustaka As-Sunnah, Jakarta, Juli 2004.

· Buku Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka, Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Terbitan: Cahaya Tauhid Press, Malang-Jawa Timur, Juli 1998.

· Buku Etika Seorang Muslim, Penulis: Departemen Ilmiah Darul Wathan, Penerbit: Darul Haq, Jakarta, September 2004.

· Buku Beberapa Kesalahan Umum (Buku Dihadiahkan tidak diperjualbelikan), Penulis: Lajnah Ilmiah eLDaSI, Bogor-Jawa Barat, April 2004.

· Buku Akibat Berbuat Maksiat, Penulis: Syaikh Hamid bin Muhammad Hamid Al-Muslih, Terbitan: Pustaka Arafah, Solo-Jawa Tengah, Januari 2002, serta bacaan lainnya.

Ahad, Kota Bekasi, 26-09-2010 M

Muhammad Faisal, SPd, M.MPd {Kang Faisal al-Jawy}

(Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi/GPAPB)

Seseorang Hamba Yang mengharap Ridho Rabb-Nya

Kunjugilah Situs Kami di http://fapbekasi.multiply.com/ http://gerakanpelajarantipemurtadan.blogspot.com/ Grup FB (Facebook) Pelajar Melawan Pemurtadan (PMP) serta Forum Anti Pemurtadan Bekasi (FAPB)

Silahkan anda sebarluaskan Tulisan ini kepada saudara Muslim lainnya dan tidak boleh merubah atau mengedit isi tulisan ini tanpa izin dari Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi (GPAPB).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar