Senin, 11 Oktober 2010

“ Fatwa-fatwa natal bersama “



Bismillahirrohmannirrohim

“ Fatwa-fatwa natal bersama “

Oleh: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts’ Al-Ilmiah wal ‘Ifta

Lembaga Dakwah Komisi Tetap riset ilmiah dan fatwa, Kerajaan Saudi Arabia (KSA)

Segala Puja dan Puji hanya milik Alloh Subhanaahu’ Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampun kepada-Nya, kita berlindung kepada-Nya dari keburukan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh Subhanaahu’ Wa Ta’ala, maka tidak ada yang memberi petunjuk kepada-Nya, Kita bersaksi tidak ada yang berhaq disembah melaikan Alloh satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi bahwa Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam “. {QS. Ali-Imran (3): 102}.

“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Alloh menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Alloh memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Alloh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasi kamu “. {QS. An-Nisaa’ (4): 1}.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Alloh memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Alloh dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.{QS. Al-Ahzab (33): 70-71}

“ Sebaik-baik petunjuk adalah Kitabulloh (Al-Qur’an), serta sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Rasululloh ShallAllohu’ Alaihi wa Sallam yakni Sunnahnya, dan seburuk-buruk perbuatan dan perkataan ialah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan ialah Bid’ah dan setiap keBid’ahan itu sesat serta setiap kesesatan itu ialah tempatnya di dalam Naar (Neraka) “. (HR. Muslim no. 867).

MENGUCAPKAN SALAM KEPADA ORANG KAFIR Fatwa No. 11123

Soal : Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam telah melarang kita untuk memulai salam kepada orang-orang kafir. Apakah larangan ini hanya sebatas ucapan: “ Assalamu’alaikum warahmatulloh “ kepada mereka, ataukah juga mencakup setiap memulai penghormatan (kepada mereka)? Bolehkah saya mengucapkan selain “ Assalamu’alaikum warahmatulloh “ kepada tetanggaku orang nashrani/Kristen, seperti ucapan “ selamat pagi “, “ good morning “, atau “ bagaimana keadaanmu “? Semoga Alloh membalas anda dengan kebaikan atas kebaikan anda kepada kami dan kaum muslimin.

Jawab: Tidak boleh memulai salam kepada orang kafir, karena telah datang hadist Abu Hurairah Radhiyallohu’ Anhu bahwa Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Janganlah kamu memulai salam kepada orang Yahudi dan Nashrani. Jika kamu berjumpa dengan mereka di jalan maka desaklah mereka ke tempat yang sempit “. (HR. Muslim No. 2167). Dan dari Anas Radhiyallohu’ Anhu ia berkata: Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Jika ahlul kitab mengucapkan salam kepadamu maka jawablah: “ Wa’alaikum “. (HR. Bukhari No. 6258, 6926 dan Muslim 2163).

Maka hendaklah ia menjawabnya sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh hadist itu, yaitu ucapan: “ Wa’alaikum “. Tidaklah mengapa memulai (menyapa) kepada orang kafir dengan ucapan: “ Bagaimana keadaanmu? “. Bagaimana keadaan engkau di pagi hari ini? “, “ Bagaimana kondisimu pada sore hari ini?”, dan semisalnya jika memang ada hajat. Hal itu telah dijelaskan oleh sejumlah kalangan ahli ilmu, diantaranya adalah Abul Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh. Wa billaahit taufiq. Semoga Alloh mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan pengikut yang setia mengikuti millah (ajarannya). {Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah 3/434-435}.

Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz Rahimahulloh, Wakil Ketua: Syaikh Abdur Razzaq Afifi Hafidzhahulloh, Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghadiyan Hafidzhahulloh.

MENGUCAPKAN SELAMAT BERHARI RAYA KEPADA ORANG NASHRANI Fatwa No. 11168

Soal : Apa hukum dalam Islam member ucapan selamat berhari raya kepada orang nashrani? Karena saya mempunyai paman yang tetangganya adalah orang nashrani, dan pamanku memberi ucapan selamat kepadanya pada saat (mereka dalam) suasana gembira dan berhaari raya. Sebaliknya tetangga itupun memberi ucapan selamat kepada pamanku di saat ia mendapat kegembiraan atau berhari raya dan setiap ada momen tertentu. Apakah ucapan selamat dari seorang muslim kepada nashrani, dan orang nashrani kepada muslim dalam hari raya mereka serta kegembiraan itu dibolehkan? Berilah kami fatwa, semoga Alloh membalas anda dengan kebaikan.

Jawab: Tidak boleh seorang muslim memberi ucapan selamat kepada orang nashrani pada hari raya mereka, karena hal itu berarti tolong-menolong di atas dosa. Sungguh Alloh telah melarang kita dari hal itu: “ Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran “. (QS.Al-Maidah:2). Sebagaimana di dalam ucapan selamat itu terdapat kasih sayang kepada mereka, menuntut kecintaan, serta menampakkan keridhaan terhadap mereka, dan syi’ar-syi’ar mereka. Ini tidak diperbolehkan.

Bahkan yang wajib (bagi seorang muslim) adalah menampakkan permusuhan dan kebencian kepada mereka, karena mereka selalu menentang Alloh Azza wa Jalla dan menyekutukanNya dengan selainNya, menjadikan bagiNya istri dan anak. Alloh berfirman: “ Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Alloh telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya “. (QS. Al-Mujadilah: 22). Dan Alloh berfirman kembali:

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Alloh". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali “. (QS. Al-Mumtahanah: 4).

Wa billaahit taufiq. Semoga Alloh mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan pengikut yang setia mengikuti millah (ajarannya). {Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah 3/435-437}.

Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz Rahimahulloh, Wakil Ketua: Syaikh Abdur Razzaq Afifi Hafidzhahulloh, Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghadiyan Hafidzhahulloh.

HUKUM BERGABUNG DENGAN ORANG-ORANG KAFIR DALAM PERAYAAN HARI RAYA MEREKA DAN RESEPSI MEREKA Soal ke-2 dari Fatwa No. 5124

Soal : Bolehkah seorang muslim menghadiri upacara tarmid orang-orang Budha yang mati jika ia diundang untuk itu?

Jawab: Tidak boleh bagi seorang muslim menghadiri upacara tarmid orang-orang Budha yang mati, sama saja apakah ia diundang maupun tidak, karena di dalamnya terdapat persekutuan dalam syi’ar mereka yang mungkar, dan sikap menyenangkan mereka, serta menampakkan keridhaan dengan perbuatan mereka. Wa billaahit taufiq. Semoga Alloh mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan pengikut yang setia mengikuti millah (ajarannya). {Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah 2/74}.

Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz Rahimahulloh, Wakil Ketua: Syaikh Abdur Razzaq Afifi Hafidzhahulloh, Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghadiyan Hafidzhahulloh, Syaikh Abdullah bin Qu’ud Rahimahulloh.

MENYERUPAI HARI LIBUR MINGGUAN ORANG-ORANG YAHUDI DAN NASHRANI Soal ke-3 dari Fatwa No. 3326

Soal : Apa hukum seseorang yang meliburkan sekolahannya pada hari Sabtu dan Ahad, sementara (para siswa) tetap belajar pada hari Kamis dan Jum’at? Apakah ia boleh mengimami kaum muslimin dalam shalat ataukah tidak?

Jawab: Tidak boleh mengkhususkan hari Sabtu atau Ahad untuk libur atau meliburkan keduanya secara bersamaan, karena menyerupai kaum yahudi dan nashrani. Orang-orang yahudi mereka berlibur hari Ahad sebagai pengagungan kepada keduanya. Telah datang riwayat dari Ibnu Umar Radhiyallohu’ Anhu dari Nabi Muhammad bin Abdullah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda: “ Aku diutus di hadapan hari kiamat dengan pedang sehingga hanya Alloh saja yang disembah. Tidak ada sekutu bagiNya. Dan dijadikan (sumber) rizqiku di bawah naungan tombakku. Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintaahku. Dan barangsiapa yang menyerupai suaatu kaum maka ia termasuk dari (golongan) mereka “. (HR. Ahmad No. 4869, 5409, Abu Ya’la, Thabrani, Ibnu Abi Syaibah, ‘Abd bin Humaid).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berkata: “ Sanadnya jayyid/baik “. Di dalam hadist ini terdapat larangan tasyabuh (menyerupai) selain jama’ah kaum muslimin. Maka termasuk pula larangan bertasyabuh dengn kaum yahudi dan nashrani secara umum dalam urusan yang menjadi ciri khas mereka. Diantaranya ialah liburan yahudi pada hari sabtu dan nashrani pada hari ahad/minggu. Tidak mengapa ia mengimami kaum muslimin di dalam shalat jika tak ada penghalang selain yang telah disebutkan, disertai dengan menasehatinya dan memperingatkannya agar tidak bertasyabuh kepada musuh-musuh Alloh dalam hari raya-hari raya mereka dan selainnya.

Wa billaahit taufiq. Semoga Alloh mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan pengikut yang setia mengikuti millah (ajarannya). {Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah 2/74-75}.

Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz Rahimahulloh, Wakil Ketua: Syaikh Abdur Razzaq Afifi Hafidzhahulloh, Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghadiyan Hafidzhahulloh, Syaikh Abdullah bin Qu’ud Rahimahulloh.

HUKUM MENGHADIRI PERAYAAN ORANG NASHRANI Soal ke-3 dan 4 dari Fatwa No. 9254

Soal : Perayaan hari kenegaraan Argentina dan (semisalnya) yang dilaksanakan di gereja-gereja mereka; seperti hari raya kemerdekaan - perayaan kaum nashrani Aran, yakni hari Paskah – maka apa hukum menyambut sebagian tokoh agama nashrani?

Jawab: Tidak boleh bagi kaum muslimin melakukannya, tidak juga menghadirinya, (maupun) bergabung didalamnya bersama orang-orang nashrani, karena hal itu akan membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan, padahal Alloh Azza wa Jalla telah melarangnya.

Wa billaahit taufiq. Semoga Alloh mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan pengikut yang setia mengikuti millah (ajarannya). {Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah 2/76}.

Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz Rahimahulloh, Wakil Ketua: Syaikh Abdur Razzaq Afifi Hafidzhahulloh, Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghadiyan Hafidzhahulloh, Syaikh Abdullah bin Qu’ud Rahimahulloh.

Fatwa No. 8848

Soal : Bolehkah bagi seorang muslim untuk bergabung bersama-sama orang-orang nashrani dalam hari mereka yang terkenal dengan sebutan “ krismas “ yang jatuh pada akhir bulan Desember, ataukah tidak? Di kalangan kami ada sebagian orang yang menisbatkan bahwa diri mereka adalah orang yang berilmu, namun mereka duduk di majlis orang-orang nashrani dalam hari raya mereka dan mengatakan bolehnya hal tersebut. Ucapan mereka ini benar atau tidak? Apakah mereka punya dalil syar’i dalam pembolehannya ataukah tidak?

Jawab: Tidak boleh bergabung dengan orang-orang nashrani dalam hari raya mereka sekalipun (di sana) ikut berkumpul orang yang mengaku punya ilmu, lantaran ini akan memperbanyak bilangan mereka serta menolong mereka dalam dosa. Alloh Azza wa Jalla berfirman: “ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran “. (QS. Al-Maidah: 2).

Wa billaahit taufiq. Semoga Alloh mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan pengikut yang setia mengikuti millah (ajarannya). {Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah 2/76-77}.

Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz Rahimahulloh, Wakil Ketua: Syaikh Abdur Razzaq Afifi Hafidzhahulloh, Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghadiyan Hafidzhahulloh, Syaikh Abdullah bin Qu’ud Rahimahulloh.

Soal ke-1 dari Fatwa No. 6397

Soal : Bergabungnya seorang muslim dalam haflah (pertemuan, perkumpulan, perayaan, pesta, maupun upacara) yang dilaksanakan oleh orang-orang Budha bagi orang-orang yang telah mati diantara mereka (yakni antara lain):

a) Hadir ketika pembakaran jasad mayit.

b) Bersedekah/menyubang untuk semisal acara ini jika ia tidak bisa hadir.

c) Mempersembahkan bunga-bunga hitam bagi kelurga mayit.

d) Menggantungkan tanda warna hitam pada hasta (lengan) atau menaruh ikatan hitam di leher.

e) Berkunjung kepada keluarga mayit di rumahnya dan pernyataan bela sungkawa kepada mereka (maka apakah hukum semua itu?)

Jawab: Tidak boleh sedikitpun melaksankan hal itu, bahkan melakukannya adalah haram lantaran mengandung perserikatan dengan orang-orang kafir serta membantu mereka dalam urusan yang tidk diperbolehkan dalam Islam.

Wa billaahit taufiq. Semoga Alloh mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan pengikut yang setia mengikuti millah (ajarannya). {Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah 2/77-78}.

Ketua: : Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz Rahimahulloh, Anggota: Syaikh Abdullah bin Qu’ud Rahimahulloh.

Fastabiqul Khoirot (mari kita berlomba dalam kebajikan), semoga dapat bermanfaat. Wallohu’ Ta’ala a’lam bish Showab, Nuun Walqolami’ wamaa’ Yasthuruun, Subhanakallohhumma’ Wabihamdhikaa’ Ashadu’ala ilaahaa’ illa Anta Astaqfirukaa Wa’athubuh ilaa’ikaa. Washallallaahu’ ala nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahhbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil’ Alamien.

Alih Bahasa: Bapak Muhammad Faisal al-Jawy, SPd, M.MPd (Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi/GPAPB), Al-Akh Mashuri As-Sundawy (Pembimbing Santri Putra Ponpes KH. Ahmad Dahlan) serta Santri-Santri Putra Ponpes KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, Kota Bekasi

“ Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Alloh itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Alloh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu “.

{QS. Al-Baqarah (2): 120}.

“ Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alloh tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai “.

{QS. At-Taubah (9) : 32}.

Kunjugilah Situs Kami di http://fapbekasi.multiply.com/ http://gerakanpelajarantipemurtadan.blogspot.com/ Grup FB (Facebook) Pelajar Melawan Pemurtadan (PMP) serta Forum Anti Pemurtadan Bekasi (FAPB)

Silahkan anda sebarluaskan Tulisan ini kepada saudara Muslim lainnya dan tidak boleh merubah atau mengedit isi tulisan ini tanpa izin dari Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi (GPAPB).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar