Senin, 08 November 2010

Propaganda Pluralisme Agama



Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyah wal Ifta’ (Komite Tetap untuk Riset ‘Ilmiah dan Fatwa) Kerajaan Saudi ‘Arabia, terkait tentang bahaya Pluralisme Agama


TENTANG PROPAGANDA PLURALISME AGAMA

Fatwa Lajnah Da’imah No: 19402 tertanggal 25/1/1418 H:

Segala puji hanyalah milik Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah atas Rasul penutup yang tiada rasul sesudahnya, atas keluarga dan segenap sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kemudian kelak.

Amma ba’du,

Sesungguhnya Lajnah Da’imah (Komite Tetap) untuk Riset Ilmiah dan Fatwa menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan kepadanya tentang beberapa pemikiran dan makalah yang ramai dirilis di media-media informasi seputar permasalahan seruan kepada Wihdah al-adyan (penyatuan agama-agama/ pluralisme agama): agama Islam, agama Yahudi dan agama Nasrani, serta beberapa persoalan-persoalan yang merupakan dampak dari seruan itu, seperti masalah pembangunan masjid, gereja dan tempat peribadatan Yahudi dalam satu komplek, di lingkungan universitas, pelabuhan udara dan tempat-tempat umum. Berikut juga seruan mencetak Al-Quran al-Karim dengan Taurat dan Injil dalam satu jilid. Dan masih banyak lagi dampak propaganda penyatuan agama tersebut. Demikian pula seminar-seminar, perkumpulan-perkumpulan dan yayasan-yayasan di barat dan di timur yang diselenggarakan dan didirikan untuk tujuan tersebut. Setelah mempelajari dan menelitinya maka Lajnah Da’imah memutuskan:

Pertama: Termasuk kaidah dasar aqidah Islamiyah yang dimaklumi secara qoth’i bulat (pasti) oleh segenap kaum muslimin adalah tidak ada agama yang benar di atas muka bumi selain Dienul Islam. Dienul Islam adalah penutup seluruh agama-agama yang ada. Dan menghapus agama, syariat dan millah sebelumnya. Tidak ada satu agama pun di atas muka bumi yang boleh dipakai sebagai tatanan beribadah kepada Allah selain Dienul Islam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran:85).

Yang disebut dengan agama Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adalah agama yang beliau bawa, bukan agama yang lain.

Kedua: Diantara kaidah dasar aqidah Islamiyah adalah meyakini bahwa Kitabullah, yaitu Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkah Allah Rabbul ‘Alamin. Meyakini bahwa Al-Qur’an menghapus kitab-kitab sebelum-nya, seperti Taurat, Zabur, Injil dan lainnya, ia juga sebagai standar kebenaran kitab-kitab sebelumnya. Tidak ada satu pun kitab suci yang berhak dipakai sebagai acuan dalam beribadah kepada Allah selain Al-Qur’an Al-Karim.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (ynag diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Al-Maidah: 48)

Ketiga: Wajib mengimani bahwa kitab Taurat dan Injil telah dihapus dengan Al-Qur’an Al-Karim, wajib meyakini bahwa keduanya telah banyak diselewengkan dan diubah, ditambah dan dikurangi.

Sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, diantaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلاَ تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِنْهُمْ

“Tetapi karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat).” (Al-Maidah: 13)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (78

Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan:’Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran:78)

Oleh karena itu, isi Taurat ataupun Injil yang masih orisinil telah dihapus dengan Islam, adapun selain itu telah diselewengkan dan diubah-ubah. Telah diriwayatkan secara shahih daari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau sangat marah ketika melihat Umar bin Khatthab rodhiyahulloohu ‘anhu memegang lembaran yang di dalamnya terdapat beberapa potongan ayat Taurat, beliau berkata:

{ أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ ؟ أَلَمِ آتِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً ؟ لَوْ كَانَ مُوسَى أَخِي حَيًّا مَا وَسِعَهُ إلاَّ اتِّبَاعِي }

Apakah engkau masih ragu wahai Ibnul Khatthab? Bukankah aku telah membawa agama yang putih bersih? Sekiranya saudaraku Musa عليه السلام. hidup sekarang ini maka tidak ada keluasan baginya kecuali mengikuti syariatku.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi dan lainnya).

Keempat: Termasuk diantara kaidah dasar aqidah Islamiyah adalah meyakini bahwa nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab:40)

Tidak ada lagi rasul yang wajib diikuti selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekiranya seorang nabi atau rasul selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup pada saat ini maka tidak ada keluasan bagi mereka kecuali mengikuti beliau dan tidak ada keluasan juga bagi para pengikut mereka kecuali mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana ditegaskan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya berikut ini:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا ءَاتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ ءَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (81

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian dating kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya’. Allah berfirman: ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjianku terhadap yang demikian itu’. Mereka menjawab: ‘ Kami mengakui’. Allah berfirman: ‘kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu’.” (Ali Imran: 81)

Nabi Allah Isa alaihis salam saat diturunkan pada akhir zaman juga mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berhukum dengan syariat beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (Al-A’raf: 157)

Sebagaimana termasuk dari kaidah dasar aqidah Islamiyah adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad diutus kepada segenap umat manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ (28

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 28)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua’.” (Al-A’raf: 58)

Kelima: Diantara kaidah dasar agama Islam adalah wajib meyakini kekufuran orang-orang yang menolak memeluk Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani maupun yang lainnya. Wajib menamai mereka kafir, meyakini bahwa mereka adalah musuh Allah, rasulNya dan kaum mukminin serta meyakini bahwa mereka adalah penduduk Neraka, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَة ُ(1

Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (Al-Bayyinah: 1)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (6

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke naar Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah:6)

Dan yang tersebut dalam ayat-ayat lainnya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

{ وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ أَوْ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِاَلَّذِي أُرْسِلْت بِهِ إلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ }

Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada seorangpun dari umat manusia yang mendengar kerasulanku, baik ia seorang Yahudi maupun Nasrani lalu mati dalam keadaan belum beriman kepada ajaran yang kubawa melainkan ia pasti termasuk penduduk Neraka.” (HR Muslim).

Oleh karena itu pula barangsiapa tidak mengkafirkan Yahudi dan Nasrani maka dia kafir. Sebagai konsekuensi kaidah syariat:

“Barangsiapa tidak mengkafirkan orang kafir maka ia kafir”

Keenam: Berdasarkan kaidah-kaidah dasar aqidah Islamiyah tersebut dan berdasarkan hakikat syariat di atas maka propaganda penyatuan agama (Wihdatul adyan, pluralisme agama) dan menampilkannya dalam satu kesatuan adalah propaganda dan makar yang sangat busuk. Misi propaganda itu adalah mencampur adukkan yang hak dengan yang batil, merubuhkan Islam dan menghancurkan pilar-pilarnya serta menyeret pemeluknya kepada kemurtadan.

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (Al-Baqarah: 217)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).” (An-Nisa: 89)

Ketujuh: Diantara dampak negatif propaganda keji tersebut adalah hilangnya pembeda antara Islam dengan kekufuran, yang haq dengan yang batil, yang ma’ruf dengan yang mungkar, dan hilangnya batas pemisah antara kaum muslimin dengan kaum kafir. Tidak ada lagi wala’ dan bara’! Tidak ada lagi seruan jihad dan perang demi menegakkan Kalimatullah di atas muka bumi, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ (29

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (At-Taubah; 29)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36

Dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36)

Kedelapan: Apabila propaganda penyatuan agama bersumber dari seorang muslim maka hal itu jelas termasuk kemurtadan dari Islam, karena jelas-jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar aqidah. Propaganda tersebut meridhai kekufuran terhadap Allah, membatalkan kebenaran Al-Qur’an, membatalkan fungsinya sebagai penghapus kitab-kitab suci sebelumnya, membatalkan fungsi Islam yang menghapus syariat-syariat dan agama-agama sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut maka pemikiran tersebut secara syar’i tertolak, haram hukumnya berdasarkan dalil-dalil syar’i dari Al-Qur’an, As-sunnah dan Ijma’.

Kesembilan: Berdasarkan uraian di atas maka,

1. Seorang muslim yang mengimani Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, Muhammad sebagai nabi dan rasulNya tidak boleh mengajak orang kepada pemikiran keji tersebut. Tidak boleh pula mendorong orang lain kepadanya dan menggulirkannya di tengah-tengah kaum muslimin. Apalagi menyambutnya, mengikuti seminar-seminar dan pertemuan-pertemuan atau menggabungkan diri dalam perkumpulan-perkumpulannya.

2. Tidak dibenarkan bagi setiap muslim mencetak Taurat dan Injil, apalagi mencetaknya bersama dengan Al-Qur’an dalam satu jilid! Barangsiapa yang melakukannya maka ia telah jauh tersesat. Karena hal itu berarti mencampuradukkan kebenaran (Al-Qur’an) dengan kitab yang telah diselewengkan atau dihapus (Taurat dan Injil).

3. Setiap muslim tidak dibenarkan menyambut ajakan membangun masjid, gereja dan ma’bad (tempat peribadatan Yahudi) dalam satu komplek. Karena hal itu berarti pengakuan bagi agama selain Islam, menghambat tegaknya Dienul Islam atas agama-agama lainnya, dan secara tidak langsung merupakan statement bahwa agama yang sah itu ada tiga dan pernyataan bahwa penduduk bumi ini boleh memilih salah satu diantaranya, bahwa ketiga agama itu sama dan bahwasanya Islam tidak menghapus agama-agama sebelumnya. Tentu saja pengakuan, keyakinan dan kerelaan kepada hal semacam itu termasuk kekufuran dan kesesatan, serta sangat bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an yang sangat jelas, As-sunnah yang shahih dan Ijma’ kaum muslimin.. Secara tidak langsung hal itu juga merupakan pengakuan bahwa penyelewengan yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu berasal dari Allah! Maha Tinggi Allah dari hal itu! Sebagaimana juga tidak dibenarkan menyebut gereja sebagai rumah Allah! Atau mengatakan bahwa ibadah kaum Nasrani kepada Allah di gereja-gereja tersebut diterima di sisi Allah! Sebab Ibadah mereka itu tidak berdasarkan ajaran Islam, sedang Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

Justru gereja-gereja itu adalah rumah kekufuran, kita berlindung kepada Allah dari kekufuran dan orang-orang kafir! Dalam Majmu’ Fatawa (22/162) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Gereja-gereja dan bi’ah (biara-biara) itu bukanlah rumah Allah. Rumah Allah itu hanyalah masjid. Namun gereja dan biara itu adalah rumah kekufuran, meskipun nama Allah disebut di dalamnya. Rumah itu tergantung kepada pemiliknya, dan pemiliknya adalah orang-orang kafir, maka gereja-gereja itu adalah rumah peribadatan orang-orang kafir.

Kesepuluh: Satu hal yang mesti diketahui adalah mendakwahi orang-orang kafir, khususnya ahli kitab adalah kewajiban kaum muslimin, berdasarkan nash-nash yang jelasdari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hendaknya dakwah tersebut dilakukan lewat penjelasan dan dialog dengan cara yang terbaik serta tidak menanggalkan prinsip-prinsip Islam. Hal itu dilakukan agar mereka menerima Islam dan bersedia memeluknya atau dalam rangka menegakkan hujjah atas mereka. Agar orang yang binasa maka ia binasa di atas keterangan yang nyata, dan siapa yang hidup maka ia hidup di atas keterangan yang nyata pula.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (64

Katakanlah: ‘Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak pula kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” (Ali Imran: 64)

Adapun dialog, perdebatan ataupun pertemuan dengan mereka hanya untuk mentolelir keinginan mereka, melempangkan misi mereka, mengurai simpul Islam dan mencabut akar keimanan maka hal itu adalah batil, tidak dikehendaki Allah, rasulNya dan kaum mukminin.. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang mereka bicarakan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (Al-Maidah: 49)

Dengan demikian Lajnah menegaskan dan menjelaskan kepada kaum muslimin, Lajnah berpesan kepada kaum muslimin umumnya dan kepada ahli ilmu khususnya agar selalu bertakwa kepada Allah dan tetap muraqabatullah (mendekatkan diri kepada Allah). Hendaknya mereka selalu melindungi Islam dan menjaga aqidah kaum muslimin dari kesesatan dan dari para penyeru-penyerunya, melindungai kaum muslimin dari kekufuran dan orang-orang kafir. Dan hendaknya memperingatkan mereka dari bahaya propaganda sesat penyatuan agama yang kufur ini! Agar mereka tidak terjerat ke dalam jaring-jaringnya. Kita memohon perlindungan kepada Allah agar seorang muslim tidak menjadi sebab masuknya kesesatan ini ke negeri kaum muslimin dan tidak menyebarkannya ke tengah-tengah mereka.

Hanya kepada Allah kita memohon, dengan asma-asmaNya yang husna (baik) dan sifat-sifatNya yang ‘Ula (luhur), agar melindungi kita semua dari fitnah-fitnah yang menyesatkan dan agar menjadikan kita sebagai juru penunjuk kepada hidayah dan sebagai pelindung dienul Islam di atas Cahaya hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala hingga kita bertemu denganNya dalam keadaan ridha kepada kita.

Shalawat dan salam semoga tercurah atas nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas keluarga dan segenap sahabat beliau.

Wabillahi taufiq.

Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta’

Ketua:

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua:

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Ali Syaikh

Anggota:

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Teks Fatwa Lajnah Da’imah:

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 12 / ص 351

الفتوى رقم ( 19402

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:

فإن اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء استعرضت ما ورد إليها من تساؤلات، وما ينشر في وسائل الإعلام من آراء ومقالات بشأن الدعوة إلى (وحدة الأديان): دين الإسلام، ودين اليهودية، ودين النصارى، وما تفرع عن ذلك من دعوة إلى بناء مسجد وكنيسة ومعبد في محيط واحد، في رحاب الجامعات والمطارات والساحات العامة، ودعوة إلى طباعة القرآن الكريم والتوراة والإنجيل في غلاف واحد، إلى غير ذلك من آثار هذه الدعوة، وما يعقد لها من مؤتمرات وندوات وجمعيات في الشرق

(الجزء رقم : 12، الصفحة رقم: 275)

والغرب.

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 12 / ص 352

وبعد التأمل والدراسة فإن اللجنة تقرر ما يلي: أولا: إن من أصول الاعتقاد في الإسلام، المعلومة من الدين بالضرورة، والتي أجمع عليها المسلمون: أنه لا يوجد على وجه الأرض دين حق سوى دين الإسلام، وأنه خاتمة الأديان، وناسخ لجميع ما قبله من الأديان والملل والشرائع، فلم يبق على وجه الأرض دين يتعبد الله به سوى الإسلام، قال الله تعالى: سورة آل عمران الآية 19 إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وقال تعالى: سورة المائدة الآية 3 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا وقال تعالى: سورة آل عمران الآية 85 وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ والإسلام بعد بعثة محمد صلى الله عليه وسلم هو ما جاء به دون ما سواه من الأديان. ثانيا: ومن أصول الاعتقاد في الإسلام: أن كتاب الله تعالى: (القرآن الكريم) هو آخر كتب الله نزولا وعهدا برب العالمين، وأنه ناسخ لكل كتاب أنزل من قبل؛ من التوراة والزبور والإنجيل وغيرها، ومهيمن عليها، فلم يبق كتاب منزل يتعبد الله به سوى القرآن الكريم، قال الله تعالى: سورة المائدة الآية 48 وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

(الجزء رقم : 12، الصفحة رقم: 276)

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 12 / ص 353

ثالثا: يجب الإيمان بأن التوراة والإنجيل قد نسخا بالقرآن الكريم، وأنه قد لحقهما التحريف والتبديل بالزيادة والنقصان، كما جاء بيان ذلك في آيات من كتاب الله الكريم، منها قول الله تعالى: سورة المائدة الآية 13 فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ وقوله جل وعلا: سورة البقرة الآية 79 فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ وقوله سبحانه: سورة آل عمران الآية 78 وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ولهذا فما كان منها صحيحا فهو منسوخ بالإسلام، وما سوى ذلك فهو محرف أو مبدل، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه

(الجزء رقم : 12، الصفحة رقم: 277)

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 12 / ص 354

غضب حين رأى مع عمر بن الخطاب رضي الله عنه صحيفة فيها شيء من التوراة، وقال عليه الصلاة والسلام: أخرجه أحمد 3 / 387، والدارمي في المقدمة 1 / 115-116، والبزار (كشف الأستار) 1 / 78-79 برقم (124)، وابن أبي عاصم في السنة 1 / 27 برقم (50)، وابن عبد البر في جامع بيان العلم وفضله (باب في مطالعة كتب أهل الكتاب والرواية عنهم) 1 / 42 (ط: المنيرية). أفي شك أنت يا بن الخطاب؟ ألم آت بها بيضاء نقية؟! لو كان أخي موسى حيا ما وسعه إلا اتباعي رواه أحمد والدارمي وغيرهما. رابعا: ومن أصول الاعتقاد في الإسلام: أن نبينا ورسولنا محمدا صلى الله عليه وسلم هو خاتم الأنبياء والمرسلين، كما قال الله تعالى: سورة الأحزاب الآية 40 مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ فلم يبق رسول يجب اتباعه سوى محمد صلى الله عليه وسلم، ولو كان أحد من أنبياء الله ورسله حيا لما وسعه إلا اتباعه صلى الله عليه وسلم، وإنه لا يسع أتباعهم إلا ذلك، كما قال تعالى: سورة آل عمران الآية 81 وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ ونبي الله عيسى عليه الصلاة والسلام إذا

(الجزء رقم : 12، الصفحة رقم: 278)

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 12 / ص 355

نزل في آخر الزمان يكون تابعا لمحمد صلى الله عليه وسلم، وحاكما بشريعته، وقال الله تعالى: سورة الأعراف الآية 157 الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ كما أن من أصول الاعتقاد في الاسلام أن بعثة محمد صلى الله عليه وسلم عامة للناس أجمعين، قال الله تعالى: سورة سبأ الآية 28 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ وقال سبحانه: سورة الأعراف الآية 158 قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا وغيرها من الآيات. خامسا: ومن أصول الإسلام أنه يجب اعتقاد كفر كل من لم يدخل في الإسلام من اليهود والنصارى وغيرهم، وتسميته كافرا ممن قامت عليه الحجة، وأنه عدو لله ورسوله والمؤمنين، وأنه من أهل النار، كما قال تعالى: سورة البينة الآية 1 لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

(الجزء رقم : 12، الصفحة رقم: 279)

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 12 / ص 356

وقال جل وعلا: سورة البينة الآية 6 إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ وقال تعالى: سورة الأنعام الآية 19 وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ وقال تعالى: سورة إبراهيم الآية 52 هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ الآية، وغيرها من الآيات. وثبت في صحيح مسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: صحيح مسلم الإيمان (153),مسند أحمد بن حنبل (2/317). والذي نفسي بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة: يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أهل النار . ولهذا فمن لم يكفر اليهود والنصارى فهو كافر، طردا لقاعدة الشريعة: (من لم يكفر الكافر بعد إقامة الحجة عليه فهو كافر). سادسا: وأمام هذه الأصول الاعتقادية، والحقائق الشرعية، فإن الدعوة إلى (وحدة الأديان) والتقارب بينها وصهرها في قالب واحد، دعوة خبيثة ماكرة، والغرض منها خلط الحق بالباطل، وهدم الإسلام وتقويض دعائمه، وجر أهله إلى ردة شاملة، ومصداق ذلك في قول الله سبحانه: سورة البقرة الآية 217 وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

(الجزء رقم : 12، الصفحة رقم: 280)

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 12 / ص 357

وقوله جل وعلا: سورة النساء الآية 89 وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً سابعا: وإن من آثار هذه الدعوة الآثمة إلغاء الفوارق بين الإسلام والكفر، والحق والباطل، والمعروف والمنكر، وكسر حاجز النفرة بين المسلمين والكافرين، فلا ولاء ولا براء، ولا جهاد ولا قتال لإعلاء كلمة الله في أرض الله، والله جل وتقدس يقول: سورة التوبة الآية 29 قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ ويقول جل وعلا: سورة التوبة الآية 36 وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ وقال تعالى: سورة آل عمران الآية 118 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

(الجزء رقم : 12، الصفحة رقم: 281)

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 12 / ص 358

ثامنا: إن الدعوة إلى (وحدة الأديان) إن صدرت من مسلم فهي تعتبر ردة صريحة عن دين الإسلام؛ لأنها تصطدم مع أصول الاعتقاد، فترضى بالكفر بالله عز وجل، وتبطل صدق القرآن ونسخه لجميع ما قبله من الشرائع والأديان، وبناء على ذلك فهي فكرة مرفوضة شرعا، محرمة قطعا بجميع أدلة التشريع في الإسلام من قرآن وسنة وإجماع. تاسعا: وبناء على ما تقدم: 1- فإنه لا يجوز لمسلم يؤمن بالله ربا، وبالإسلام دينا، وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا الدعوة إلى هذه الفكرة الآثمة، والتشجيع عليها، وتسليكها بين المسلمين، فضلا عن الاستجابة لها، والدخول في مؤتمراتها وندواتها، والانتماء إلى محافلها. 2- لا يجوز لمسلم طباعة التوراة والإنجيل منفردين، فكيف مع القرآن الكريم في غلاف واحد؟ فمن فعله أو دعا إليه فهو في ضلال بعيد؛ لما في ذلك من الجمع بين الحق (القرآن الكريم) والمحرف أو الحق المنسوخ (التوراة والإنجيل). 3- كما لا يجوز لمسلم الاستجابة لدعوة: (بناء مسجد وكنيسة ومعبد) في مجمع واحد؛ لما في ذلك من الاعتراف بدين يعبد الله به غير دين الإسلام، وإنكار ظهوره على الدين كله،

(الجزء رقم : 12، الصفحة رقم: 282)

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 12 / ص 359

ودعوة مادية إلى أن الأديان ثلاثة، لأهل الأرض التدين بأي منها، وأنها على قدم التساوي، وأن الإسلام غير ناسخ لما قبله من الأديان، ولا شك أن إقرار ذلك واعتقاده أو الرضا به كفر وضلال؛ لأنه مخالفة صريحة للقرآن الكريم والسنة المطهرة وإجماع المسلمين، واعتراف بأن تحريفات اليهود والنصارى من عند الله، تعالى الله عن ذلك. كما أنه لا يجوز تسمية الكنائس (بيوت الله) وأن أهلها يعبدون الله فيها عبادة صحيحة مقبولة عند الله؛ لأنها عبادة على غير دين الإسلام، والله تعالى يقول: سورة آل عمران الآية 85 وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ بل هي بيوت يكفر فيها بالله، نعوذ بالله من الكفر وأهله، قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى في مجموع الفتاوى (22 / 162) : (ليست – البيع والكنائس – بيوتا لله، وإنما بيوت الله المساجد، بل هي بيوت يكفر فيها بالله، وإن كان قد يذكر فيها، فالبيوت بمنزلة أهلها، وأهلها الكفار، فهي بيوت عبادة الكفار). عاشرا: ومما يجب أن يعلم: أن دعوة الكفار بعامة، وأهل الكتاب بخاصة إلى الإسلام واجبة على المسلمين، بالنصوص

(الجزء رقم : 12، الصفحة رقم: 283)

فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج 12 / ص 360

الصريحة من الكتاب والسنة، ولكن ذلك لا يكون إلا بطريق البيان والمجادلة بالتي هي أحسن، وعدم التنازل عن شيء من شرائع الإسلام، وذلك للوصول إلى قناعتهم بالإسلام، ودخولهم فيه، أو إقامة الحجة عليهم ليهلك من هلك عن بينة ويحيا من حي عن بينة، قال الله تعالى: سورة آل عمران الآية 64 قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ أما مجادلتهم واللقاء معهم ومحاورتهم لأجل النزول عند رغباتهم، وتحقيق أهدافهم، ونقض عرى الإسلام ومعاقد الإيمان فهذا باطل يأباه الله ورسوله والمؤمنون والله المستعان على ما يصفون، قال تعالى: سورة المائدة الآية 49 وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

وإن اللجنة إذ تقرر ما تقدم ذكره وتبينه للناس؛ فإنها توصي المسلمين بعامة، وأهل العلم بخاصة بتقوى الله تعالى ومراقبته، وحماية الإسلام، وصيانة عقيدة المسلمين من الضلال ودعاته، والكفر وأهله، وتحذرهم من هذه الدعوة الكفرية الضالة: (وحدة الأديان)، ومن الوقوع في حبائلها، ونعيذ بالله كل مسلم

(الجزء رقم : 12، الصفحة رقم: 284)

أن يكون سببا في جلب هذه الضلالة إلى بلاد المسلمين، وترويجها بينهم. نسأل الله سبحانه، بأسمائه الحسنى وصفاته العلى أن يعيذنا وجميع المسلمين من مضلات الفتن، وأن يجعلنا هداة مهتدين، حماة للإسلام على هدى ونور من ربنا حتى نلقاه وهو راض عنا.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس

بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

(الكتاب : فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

المؤلف : أحمد بن عبد الرزاق الدويش

الناشر : الرئاسة العامة للبحوث العلمية والإفتاء

عدد الأجزاء : 26

مصدر الكتاب : موقع الإفتاء

[ ضمن مجموعة كتب من موقع الإفتاء ، ترقيمها مطابق للمطبوع ، ومذيلة بالحواشي ]

* اعتنى به أسامة بن الزهراء – عفا الله عنه – اعتمادا على ملف الكتروني نشره مركز ملتقى أهل الحديث للكتاب الإلكتروني جزاهم الله خيرا)

Ahmad al-Qodhi, Da’wah Taqrib Bain al-adyan, Dar ibn al-Jauzi, Dammam, 1422H,

4 / 1661-1666, diterjemahkan oleh Al-Ustadz Agus Hasan Bashori, Lc, M.Ag


Biografi Al-Ustadz Agus Hasan Bashori Lc, M.Ag.
(Abu Hamzah al-Qomari)


Nama:
Agus Hasan Bashori al-Sanuwi, Lc, M.Ag.
Nama Pangilan (Kunyah):
Abu Hamzah al-Qomari
Status:
Berkeluarga dan baru dikaruniai 5 orang anak; 3 perempuan ,2 lak-laki
Tempat & tanggal Lahir:
Pasuruan, Kamis, 17 Agustus 1967 jam 07 pagi.
Pendidikan Formal (persekolahan) :
  1. MI & MTs al-Faqihiyah, Babat, Gempol, Pasuruan (1976-1984) (Rangking 1)
  2. MAN Bangil, Pasuruan (1984–1987) (Rangking 1)
  3. PP. Darul Ulum Bangil (1984–1987), yang diasuh oleh KH. M. Suaifi Abd. al-Razzaq (w. 1423 H), belajar kitab kuning madzhab Syafi’I dengan terjemahan bahasa Jawa. (1984-1987)
  4. LIPIA Jakarta (1987–1994) (Rangking 1 cumlaude, mendapat hadiah haji dari duta besar saudi Arabia di Jakarta Syaikh abdullah Abdur Rahman Alim pada tahun 1994)
  5. Pasca Sarjana UMM (2001-2002). (Rangking 1 cumlaude, lulusan terbaik sejak pasca sarjana jurusan agama Islam didirikan)
  6. Ma’had al-Aimmah liddakwa’ah wal-Khithabah, Makkah al-Mukarromah (2005) (Mendapatkan sertifikat sebagai Peserta daurah terbaik, cumlaude)

Alhamdulillah awwalan wa akhiran.
Dalam pendidikan formal, selama di Jakarta menimba ilmu dari para dosen dalam dan luar negri:
  • Ustadz Yusuf Harun MA (Akidah dan Tauhid)
  • Syaikh DR. Ibrahim Atha Sya’ban al-Mishri (Fiqih Muqaran dan ushul fiqih)
  • Syaikh DR. Ahmad Khatm as-Sudani (Ushul Fiqih)
  • Syaikh (DR) Abdullah bin Zhofir al Amri dan DR. Qosim bin sa’ad al-Lubnani dan Syaikh Abdullah al-’Amri (Subulus salam)
  • Syaikh Manna’ al-Qarni dan DR. Umar al-Filisthini (Tafsir)
  • Syaikh DR Mahmud Faroj ALMishri dan DR Muhammad Abdur Rahim (Penulis Tafsir al-Hasan al-Bashri dan kitab Tafsir as-Shahabah mumayyizatuhu, wa Khashaishuhu wa Mashadiruh) (Nahwu-Syarah Ibnu Hisyam). Beliau menyuruh saya menerjemahkan kompilasi Hukum Islam Indonesia ke dalam bahasa Arab untuk penelitian beliau dalam komparasi hukum Indonesia dan Mesir)
  • Syaikh DR. Abdurrahim at_Thahhan al-Halabi ( Dari tanggal 3/3/1413 sampai akhir tahun akademik -sebelum ada tahzdiran terhadap beliau oleh beberapa ulama lain-dalam 3 mata kuliah: Tafsir Fathul Qadir lissy-syaukani, Syarah al-Aqidah at-Thahawiyyah libni Abil Izz dan faraidh dari hafalan beliau (karena ke Indonesia tidak membawa kitab, dan tidak pernah ke maktabah).
  • Dll.
Pendidikan Informal (Keluarga)
  1. Sejak kecil hingga lulus MTs belajar al-Qur`an, tajwid, dasar fiqih Syafi’I (Sullam Safinah dan Sullam Taufiq), dan adab pada kedua orang tua: Bapak Qomari ibn Abdul Ghani al-Sanuwi, dan ibu Siti Nur Fathona binti Bukhari al-Ghartami (w. 2002)
Pendidikan non Formal (di luar sekolah-Masyarakat):
  1. Sebelum ke LIPIA belajar bahasa Arab pada al-Ustadz Abdul Qadir Badjuber Bangil
  2. Sejak lulus dari LIPIA tahun 1994 hingga sekarang (2008) banyak menimba ilmu dari para masyayikh Ahlu sunnah yang datang ke Indonesia melalui daurah-daurah, yang diadakan oleh:
    1. LIPIA Jakarta,
    2. Yayasan al-Sofwa Jakarta,
    3. Ma’had Imam Syafi’I Cilacap (4/71418)
    4. al-Mulhaq ad-Diniy Jakarta,
    5. Muassasah al-Manahil (26-28 Rajab 1424, bersama Syaikh DR as-Sami al-Khalil, Syaikh DR Ahmad Said as-Sudani, Syaikh Muhammad Sayyid Muhammad Hajj dan al-Ustadz Anas Nahdi)
    6. Ma’had al-Irsyad al-’Ali Surabaya (yang sekarang resmi menjadi STAI Ali bin Abi Thalib),
    7. Ma’had Minhaj as-Sunnah Bogor
    8. Ma’had Ibnu Taimiyyah Bogor
    9. Majalah Qiblati Malang.
  3. Selama tahun 2005 di Makkah, sempat beberapa kali mengikuti majlis Syaikh DR. Rabi’ al-Madkhali di rumah beliau di al-Awali (materi Aqidatus salam Ashhabil Hadits liabi Utsman al-Shabuni. Saat itu tidak terlihat seorangpun dari Indonesia), Majlis Syaikh Muhammad Umar Bazmul (materi Ushul Fiqih al-Luma’ lisy-Syirazi dan Syarah Muwaththa’ Malik), Syaikh Washiyullah Abbas (materi syarah al-Bukhari dan kitab at-Taqyiid wal-Idhah /Muqaddimah Ibnu Shalah).
  4. Kemudian saat di Madinah sempat mengikuti majlis syaikh Ibrahim ar-Ruhaili dalam pembahasan Istiqamah, dan syaikh Abu Bakar al-Jazairi dalam Tafsir.
Secara pribadi pernah bertemu langsung dengan sebagian masyayikh:
  1. Syaikh Muhammad Jamil Zeno (di rumah beliau Selasa 14-2-2006, ditemani Faruq putra beliau, banyak diberi kitab sampai tidak bisa membawa)
  2. Syaikh Manshur di rumah beliau malam Rabo 14-2-2006, diberi kitab Mushannaf Ibn Abi Syaibah, Jalaul Afham, ShAhih IBn Hibban dan Mukhtashor as-Syamail.
  3. Syaikh DR. Muhammad Bazamul (di majlis beliau, 2005 dan awal 2006)
  4. Syaikh DR Washiyullah Abbas (di rumah beliau mAlam Jum"At 10-2-2006, dan di majlis beliau di al-Haram)
  5. Syaikh Samir ibn Amin az-Zuhairi (Di tenda beliau Mina (13-12-1426/13-1-2006), dan di rumah beliau Riyadh. Beliau memberi izin untuk menerjemah tahqiq beliau terhadap kitab al-Arba’in an-Nawawiyyah, dan memberikan haknya kepada saya, 2006))
  6. Syaikh DR. Thalal ibn Muhammad Abun Nur, mudir Masyru’ ta’zhim Baladillah al-Haram, menerjemah kitab kecil beliau berjudul al-arba’un al-Makkiyyah,2005)
  7. Syaikh DR. Hamdan al-Ghamidi dosen pasca Ummul Qura di rumah beliau ( Jumat 17-2-2006)
  8. Syaikh Kholid bin Abdillah al-Muslih (di Bogor 27 Juni-3 Juli 2000), dan di kantor tau’iyatul Hujjaj di Aziziyah, 2005)
  9. Syaikh Zakariya ibn Ghulam al-Bakistani (di Rumah beliau dua kali, diberi kitab: Shahih al-Matjar ar-Rabih dan Min Akhbar as-Salaf, dan beliau mengizinkan untuk saya muat di majalah Qiblati, 2005 dan 2006)
  10. Syaiklh Ibrahim ad-Dahsy (Di tenda beliau di Mina, 2005)
  11. Syaikh Prof. DR. Nashir bin Abdil Karim al-Aql (Pernah menjadi penerjemah beliau di JIC, 2007 dalam kajian akbar dengan tema al-Ulama hum ad-Du’at)
  12. Syaikh DR. Ahmad al-Qadhi (di daurah al-Sofwa, saat saya sebagai kordinator divisi ta’lim. Beliau memberi saya hadiah kitab beliau yang berjudul Taqrib Bainal Adyan. Dan di al-Bina`. Beliau memberi izin kepada saya untuk memuaat dan menerjemah makalah beliau di web beliau atau kitab-kitab beliau, 2003 dan 2007)
  13. Syaikh DR. Nashir al-Qifari (di LIPIA, al-Mulhaq ad-Diniy, dan Al-Sofwa. Beliau memberi hadiah kepada syaya kitab beliau Ushul al-Syi’ah 3 jilid, dan menyuruh saya menerjelmah kitab beliau Protokolat al-Syi’ah)
  14. Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi (Di Daurah ma’had al-Irsyad Surabaya, dan menjadi penerjemah beliau di IAIN Sunan Ampel Surabaya)
  15. Syaikh DR. Muhammad Musa (di daurah Ma’had Irsyad Surabaya, dan menjadi penerjemah beliau di masjid UIN Malang dengan tema factor-faktor keselamatan (tafsir surat an-Nashr)
  16. Syaikh Abdur Rahmad al-Sudais, dan menjadi penerjemah beliau di UIN Malang)
  17. Syaikh DR. Abdurrahman al-Qassas (mufti di Masjidil Haram) (Daurah Qibalti(DQ)-2, 3)
  18. Syaikh DR Abdullah Muhammad al-Qarni (DQ-3 )
  19. Belajar jurnalistik pada: DR. Adian Husaini (diklat al-Sofwa) dan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz (dari arahan dan tulisan beliau).
Pengalaman Organisasi, Profesi dan sebagian prestasi:
  1. Ketua Bidang Pendidikan PP. Darul Ulum (1986–1987)
  2. Koordinator Bidang Ekstra Kurikuler Pada Angkatan ke-5 Fakultas Syari’ah LIPIA
  3. Juara harapan dalam lomba menulis makalah yang diadakan oleh Universitas Imam Ibnu Saud Riyadh, dengan judul makalah al-Zilzal, tahun 1992.
  4. Selama menjadi mahasiswa di Jakarta aktif dalam berbagai macam kegiatan dakwah dan pendidikan; mengisi ceramah di masjid-masjid, di beberapa kampus di Jakarta dan Bogor. Juga menulis di Media Dakwah, Masjid, Muslimun dan Aula.
  5. Sejak Agustus 1993 menjadi guru bahasa Arab bagi Bapak Drs. H. Yunus Yahya (Lauw Chuan Tho) hingga awal 1994
  6. Pada 10 Oktober 1993 menjadi utusan LIPIA dalam seminar “Kesehatan Mental Mahasiswa” yang diadakan oleh PKPMI (Persatuan Kebangsaan Pelajar Malaysia di Indonesia)
  7. Guru Bidang Tarikh Tasyri’ di PP. Darul Ulum Bangil (1998-1999)
  8. Dosen Bahasa Arab STIT Muhammadiyah Bangil (1995-1996)
  9. Dewan juri Lomba Kitab Kuning dalam acara Festival Seni Pondok Pesantren dan Pameran Kebudayaan Islam Jawa Timur (1995) di Masjid Agung Sidoarjo
  10. Dosen Aqidah dan Tafsir Pesantren Tinggi Manarul Islam Bangil (1995-2000). Kemudian dimulai lagi sejak tahun 2004 hingga sekarang, menjadi dosen Akidah dan Manhaj.
  11. Dosen Bahasa Arab dan Fiqh IISC Surabaya (1999-2001)
  12. Dosen Tamu di Pesantren Tinggi Imam Syafi’i Cilacap (1995 sampai 2004)
  13. Pembina tetap dalam Daurah Tauhid (Pelatihan Bidang Aqidah) untuk guru-guru bidang aqidah di seluruh Indonesia yang telah diadakan oleh Yayasan Nidaul Fitrah Surabaya dan al-Sofwah Jakarta di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, dan NTB
  14. Pendiri dan Pembina FKIA (Forum Kajian Islam At-Tabi’in) Pandaan, Pasuruan, Jatim (1994 hingga sekarang)
  15. Kontributor bulletin al-Nur Jakarta dan majalah al-Sunnah Solo dan lain-lain.
  16. Penerjemah kitab-kitab Islam, diantaranya adalah Riyadh al-shalihin takhrij Syeikh al-Albani.
  17. Koordinator bidang Ta’lim dalam Daurah Ta’hil Du’at (Kaderisasi Dai) program 4 tahun yang diadakan oleh al-Sofwah sejak 2002 hingga 2004.
  18. Dewan pendiri Yayasan al-Anshar wa al-Muhajirin Malang tahun 2000 (bersama Ust. Abdullah hadrami, Ir. Andri Kurniawan, M.Ag dan Ust. Ainul Haris, Lc, M.Ag. Dan sejak 2004 saya rubah menjadi LBM (Lembaga Bina Masyarakat) Malang, setelah Utadz Abdullah dan Ustadz Andri mundur dari kepengurusan.
  19. Dosen luar biasa, bahasa Arab di UNMUH Malang 2004.
  20. Pembina beberapa halaqah ilmiah di Malang, Bangil Pasuruan, Mojokerto, Surabaya, Pamekasan dan Jakarta.
  21. Pembicara dalam acara-acara bedah buku, seminar, dialog interaktif dan Tabligh Akbar
  22. Bekerja pada Haiatul amri bil-Ma’ruf wan-Nahyi ’Anil Munkar makkah al-Mukarramah dalam Tau’iyaul Hujjaj pada musim haji tahun 1426/2005.
  23. Safari dakwah di Freeport Tembaga Pura Papua selama 10 hari (2004)
  24. Mendirikan Forum silaturrahim dan musyawarah untuk para salafiyyin Indonesia yang berada di Makkah, pada hari Jum’at 4-1-1427 H, dihadiri 14 orang dan ditunjukklah Nuruddin Muhammad Fattah mahasiswa fakultas Dakwah asal Garut, sebagai ketuanya.
  25. 16-2-2006 mengunjungi pantai Syu’aibah (90 km dari Mekkah) tempat penyebrangan para sahabat saat hijrah ke Habasyah.
  26. Safari dakwah NTB-Sumbawa selama 9 hari (2006).
  27. Safari Dakwah Eropa (Belanda-Perancis dan Belgia) selama 14 hari (27 Pebruari-13 Maret 2008)
Ditulis: Di Malang, Selasa, 10 Sya’ban 1429 H/ 12 Agustus 2008)

BUAH PENA

A. Karya tulis:
  1. Al- Bid’ah wa Atsaruha al- Sayyi’ ( ta’lif /Skripsi, belum dicetak ) (1992)
  2. Khabar al-Ahad ‘Inda al-Ushuliyyin, ( ta’lif /skripsi, belum dicetak ) (1993)
  3. Al- Isytirak fi al-Jarimah, ( ta’lif/skripsi akhir, belum dicetak ) (1994)
  4. Sumber-sumber Ajaran Tasawuf ( karya tulis, belum dicetak), (1999)
  5. Fiqih Ramadhan (karya tulis, belum dicetak), (2000)
  6. Konsep Pendidikan Islam al-hafizh ibn Abd. al-Barr (Tesis, belum dicetak) (2002)
  7. Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur’an, Pustaka as-Sunnah, Surabaya (2003)
  8. Akidah Islam, Panduan KIT tingkat Lanjutan, al-Sofwa Jakarta (2003).
  9. Koreksi Total buku Fikih Lintas Agama, Pustaka al-Kautsar (2004)
  10. Mengenal Imam al-Asy’ari, upaya menyempurnakan faham ahlus sunnah waljamaah di Indonesia, (karya tulis, belum dicetak), 1997, dan direvisi 2008, insyaallah segera terbit.
  11. Panduan Praktis Ibadah Haji, Media Citra Qiblati (2008)
  12. Abul Hasan al-Asy’ar Imam Yang terzhalimi , Pustaka Qiblati, Malang 2009.
  13. Iqamat shalat subuh menurut para ulama, Pustaka Qiblati, 2010. (89 halaman)
  14. Tanggapan Lumrah terhadap Makalah Siapa Yang Salah Kaprah, Pustaka Qiblati, 2010 (+100 halaman)
  15. Koreksi Awal Waktu Subuh, Pustaka Qiblati, 2010 (saya tulis bersama Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi, dan Ustadz M. Syuaib al-Faiz Lc., M.Si. (+320 halaman) (Pustaka Qiblati, 2010)
B. Karya terjemahan:
  1. Al-ghuraba’, Pustaka al-Kautsar, 1992
  2. Pengendalian Hawa Nafsu Terapi Islami, Karya Syeikh Abdullah M. al-Ghunaiman, Risalah Gusti, Surabaya, 1992
  3. Surat Kepada Keluarga Muslim, karya Dr. Nadzmi Khalil Abu al-Atha, Risalah Gusti, Surabaya, 1993
  4. Sunnah dan Bid’ah, Karya Imam Suyuthi, (masih belum tercetak) 1992
  5. Debu-Debu Maksiat dan Siraman Air Taubat, karya Abu Dzal al-Qolmuni, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994
  6. Taubatnya Wanita Shalihah karya Abu Dzar al-Qolmuni, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994
  7. Kajian Penting Dari Sirah nabi saw, Risalah Gusti, Surabaya, 1994
  8. Pemandu Anda Dalam haji dan Umroh (Jakarta, ada di al-Sofwa Jakarta, 1994)
  9. 92 Sarana Dakwah, al-Sofwa Jakarta, 1994
  10. Panggilan Fitrah (ada di Kautsar, 1996)
  11. Kitab Tauhid I, karya Syeikh Shalih al-Fauzan, al-Sofwa, Jakarta, 1998
  12. Kitab tauhid II, karya Team Ahli, al-Sofwa, Jakarta,1998
  13. Tarbiyatul Awlad, karya Dr. Sulaiman ibn Qasim al-Faifi, (ada di Risalah gusti, Surabaya)
  14. Gelar al-Sayyid, Dokumen PP al-Irsyad, 1997
  15. Sejarah al-Irsyad, Dokumen al-Irsyad, 1997
  16. Berlindung Di Pangkuan Allah (al-I’tisham Billah), Ibn al-Qoyyim (diambil dari Madarij al-Salikin), (di Duta Ilmu) 1998
  17. Risalah Untuk Para Da’i-1, Karya Syeikh Muhammad Syakir, Duta Ilmu Surabaya, 1999
  18. Risalah Untuk Para Da’i-2, Karya Syeikh Muhammad Syakir, Duta Ilmu Surabaya, 1999
  19. GEN Syi’ah, Sejarah konspirasi Yahudi dan Penyimpangan Aqidah Syi’ah, karya Ust. Mamduh Farhan al-Buhairi, Dar al-Falah, Jakarta, 2002
  20. Riyadus Shalihin, karya imam al-Nawawi, Takhrij Syeikh al-Albani, diterjemah bersama al-Akh Muhammad Syueb al-Faiz al-Sanuwi Lc, Duta Ilmu, Surabaya, 2002
  21. Kumpulan 3 Risalah, Dokumen al-Irsyad pusat, Duta ilmu, Surabaya, 2003
  22. Energi Iman, karya Abdullah Ibnu Fahd as-Sallum, Elba, Surabaya, 2004
  23. Mewaspadai 100 Perilaku Jahiliyyah, Mahmud Syukri al-Alusi, tahqiq DR. Yusuf ibn Muhammad al-Said, Elba Surabaya, 2005
  24. Kuburan agung, karya Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi, Darul Haq, jakarta, 2005
  25. Musuh-Musuh al-Qur`an, karya Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi, 2005
  26. Cara Mudah memahami Tauhid
C. Muraja’ah dan komentar:
  1. Komentar terhadap Buku “Mengapa Syariat Islam Ditolak”, Karya Sa’id al-Qahtahani, Progresif, Surabaya, 2002
  2. Khutbah Jum'at Pilihan Setahun, Yayasan Al-Sofwah, Jakarta, 2000
  3. Risalah Cinta, Karya Ibnu Taimiyah, Pustaka Sunnah Surabaya, 2003
  4. Panduan Khathib, Syaikh DR. Su’ud Syuraim (Darus Sunnah Jakarta, 2008
  5. Fiqhus Sirroh Syaikh DR. Zaid bin Abdul Karim Az Zaid, edisi terjemahan diterbitkan oleh Darus Sunnah, Jakarta, 2008.
  6. Pengantar Peradaban Islam, Darul Haq
  7. Sikab Al-Qur`an dan Sunnah terhadap Terorisme dan Anarkhis (kumpulan fatwa dan makalah ulama), Darul Haq
  8. Rahasia Shalat, Darul Haq
  9. Terjemahan kitab Likay Taqrra ‘Ainuk, DR. Sulaiman ibn Muhammad as-Shughayyir. Jakarta: Al-Sofwa.
  10. Terjemahan kitab al-Madkhal ila al-Tsaqafah al-Islamiyyah, DR. Khalid ibn Abdillah al-Qasim dkk. Jakarta: Al-Sofwa.
  11. Mawqif al-Sunnah wal-Kitab Minal ‘Unf wal-Irhab (kumpulan Fatwa para Ulama; Syaikh Ibn Bazz, Ibn Utsaimin, Al-Fauzan, Abdul Aziz Alus Syaikh, abdul aziz ar-Rajihi, al-Luhaidan). Jakarta: Al-Sofwa.

JUDUL-JUDUL KASET CERAMAH PENULIS
A. Di Studio Rekaman al-Sofwa Jakarta.
  1. Bangsa Ya’juj dan Ma’juj
  2. Cara menghitung Zakat
  3. Iman Kepada Allah Swt.
  4. Iman kepada Rasulullah saw
  5. Iman kepada Qadar
  6. Imam Asy’ari dan Asy’ariyyah
  7. Pelajaran Tauhid untuk Pemula
  8. Pelajaran Tauhid untuk Tingkat Lanjutan
  9. Pelajaran tauhid untuk Tahun ke 1, 2, 3 dan 4
  10. Iman kepada Hari Kebangkitan
  11. Aqidah Ahlu Sunnah Waljama’ah
  12. Islam, Agama yang Benar
  13. Syarat Diterimanya Suatu Amalan
  14. Studi Dasar islam
  15. Fiqh Wanita
  16. Kajian Penting Dakwah di madinah
  17. Dakwah nabi saw Di madinah
  18. Dakwah Fardiyah Wa Amal Jama’i
  19. Pendidikan Anak Dalam Islam
  20. Wanita dan Profesi
  21. Islam, Agama yang Dijanjikan menang
  22. Refleksi Semangat hijrah Bagi Dakwah
  23. Mutiara Hikmah Dari Hadits Dajjal
B. Di Studio Rekaman L-DATA Jakarta
  1. Al-Wala’ wal Bara’
  2. Aqidah Salaf dan Nasehat Untuk Para Da’i
  3. Arti dan Konsekuensi Amanat
  4. Dakwah Rasulullah saw di madinah
  5. Hak Muslim Terhadap Muslim Lain
  6. Hakikat Jaringan Islam Liberal
  7. Kebangkitan Islam Abad 15 Hijriyah
  8. Mengimani Perbedaan Pria dan Wanita
  9. Metodologi Salaf dalam Menerapkan Sunnah
  10. Mutiara Tafsir Ayat-Ayat Puasa
  11. Pendidikan Anak Dalam Islam
  12. Pendidikan Sex Dalam Perspektif Islam
  13. Pluralisme Dalam Perspektif islam
  14. Rokok Dalam Tinjauan medis dan Normatif
  15. Tauhid Untuk Pemula
  16. Wanita Muslimah Bersama Rabbnya
  17. Biarkan Kami Mati Syahid
C. Tasjilat Ababil Malang
  1. Safari Dakwah NTB
  2. Cermin Keluarga Sakinah (Ababil, 2007)
  3. 3 Pertanyaan Besar (Ababil, 2008)
  4. Safari Fajar Shodiq (Ababil, 2010)
  5. Kunci Hidayah (Ababil, 2010)

JUDUL-JUDUL CERAMAH PENULIS DALAM VCD
  1. Mengenal Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah (Jakarta, 2002)
  2. Metodologi Salaf Dalam Mengagungkan Sunnah (Jakarta, 2002)
  3. Kiat Menghadapi Fitnah (Surabaya, 2003)
  4. Kiat Menuju Hati Yang Bersih (Surabaya, 2003)
  5. Persetruan Setan Terhadap Manusia (Surabaya, 2003)
  6. Cermin Keluarga Sakinah (Ababil, 2007)
  7. 3 Pertanyaan Besar (Ababil, 2008)
  8. Safari Fajar Shodiq (Ababil, 2010)
  9. Kunci Hidayah (Ababil, 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar