Minggu, 21 November 2010

Waspadai Pemurtadan dan Kristenisasi di Daerah Bencana


Para misionaris tidak bisa dipisahkan dari korban bencana dan musibah. Di mana ada bencana, di situ misionaris beraksi. Para korban bencana yang sedang dirundung duka, sangat memerlukan uluran bantuan untuk meringankan beban deritanya. Sementara para misionaris yang mengamalkan prinsip “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16), memiliki modal untuk memberikan bantuan sembari mengusung misi penginjilan (Markus 16:15).

Kegigihan para misionaris dalam menjala aqidah umat Islam, bisa kita lihat dalam teori penginjilan yang diajarkan Dr HL Senduk dari Gereja Bethel: “Kita harus memimpin jiwa itu sehingga ia mengambil keputusan. Ada waktu menabur dan ada waktu menuai. Setelah sudah kita menginjili, maka kita akan menuai... yakinkan dia bahwa sekarang dia bisa jadi anak Allah, jika ia suka terima Tuhan Yesus di dalam hidupnya. Jangan lepaskan jiwa itu sebelum saudara mengajak dia menerima Kristus, sehingga ia berkata: “Saya terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.” (Penginjil yang Sukses, hal. 11).

Di daerah bencana, penyebaran Kristen berkedok bantuan kemanusiaan itu bukanlah membantu orang susah, tapi malah membuat suasana semakin resah. Seharusnya, para misionaris bisa membedakan antara bantuan tulus dengan misi akal bulus. Bantulah sesama manusia setulus hati, sesuai wasiat Yesus: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31). Misi kemanusiaan di berbagai daerah bencana adalah keterpujian, tapi jika disusupi dengan misi pengkristenan, maka itu adalah pelanggaran terhadap amanat Yesus:

“Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10:5-6).

Upaya pemurtadan atas korban bencana alam di berbagai daerah bukan isapan jempol. Waspadai misi salibis dan seluruh iming-imingnya.

Kaum Muslimin harus membuktikan ukhuwahnya. Bila umat Islam enggan membantu saudaranya yang tertimpa musibah, berarti mereka telah memuluskan orang di luar Islam untuk datang membantu sambil menyebarkan misi agamanya.

walan tardaa 'anka alyahuudu walaa alnnashaaraa hattaa tattabi'a millatahum qul inna hudaa allaahi huwa alhudaa wala-ini ittaba'ta ahwaa-ahum ba'da alladzii jaa-aka mina al'ilmi maa laka mina allaahi min waliyyin walaa nashiirin

" Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Alloh itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Alloh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu ". (QS. Al-Baqarah 120).

Sabtu, Kota Bekasi, 20.11.2010 M

Oleh:Muhammad Faisal, SPd, M, MPd (Kang Faisal al-Jawy alBantani)

Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi/GPAPB


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar