Jumat, 14 Januari 2011

“ Nabi Isa Lahir Bukan Tanggal 25 Desember? “

Oleh: Muhammad Faisal, SPd, M, MPd (Pembina GPAPB), dkk

http://www.muslimdaily.net/berita/anti_kristen.jpg


Kompas (Komando Pastur/Koran Misionaris), Minggu, tanggal 24 Desember 2006: “ Setelah dewasa saya baru tahu, orang tua saya sudah setor hadiah berikut pemberitahuan kenakalan saya kepada sinterklas dan bapak piet hitam beberapa hari sebelumnya. Kemudian saya sadar tak sedang memperingati hari kelahiran sang juru selamat, tetapi malah sedang memperingati hari tukar kado, ritual tahunan, memasang pohon terang, dapat THR dan melihat sinterklas ” (Samuel), lalu, Samuel menambahkan pula: ” sepengetahuan IQ saya yang jongkok ini, pohon terang atau cemara tepatnya, tak ada di sekeliling palungan tempat yesus lahir. Waktu ia lahir sepertinya tak ada salju pula. Jadi, setelah dipikir-pikir, saya ini sedang memperingati kelahiran siapa, ya? ”

Menarik apa yang ditulis umat kristiani sebagaimana di atas. Chrismast (Hari Natal) bersal dari kata kristes maesses, frase dalam bahasa inggris yang berarti mass of Christ (misa kristus). Dalam bahasa Indonesia natal berarti lahir. Dihari inilah orang-orang Kristen setiap tanggal 25 Desember merayakan hari lahirnya Nabi Isa ‘alaihis salam, atau yang mereka biasa sebut Yesus.

Benarkah Nabi Isa a.s dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Inilah yang menjadi tanda Tanya besar . Kita sebagai muslim wajib tidak percaya akan hal itu. Ternyata pula tidak semua orang-orang Kristen meyakini alias masih bingung mengenai hal tersebut.

Sejarah Natal

Sampai sekitar abad III dan IV hari natal sama sekali tidak dikenal dalam agama Kristen. Perayaan natal untuk pertama kali baru diadakan pada tahun 354 di Kota Roma sebagai pengganti hari sahabat. Pada saat Imperium Romawi yang paganis polityeisme (agama yang menyembah banyak dewa). Saat itu umat Katolik tak berdaya. Apalagi bagi yang tidak menghargai atau menjunjung hari dewa matahari 25 Desember, akan mendapat siksa dan hukuman dari Kaisar Romawi. Agar Katolik aman dan diakui, diadakan Sintkretisme, yakni penyatuan kelahiran Yesus dengan kelahiran Dewa matahari. Lambang dewa matahari berupa sinar bersilang dijadikan lambang Kristen. Pada abad ke-8 perayaan natal diadakan lebih meriah dengan membuat dekorasi dan hiasan-hiasan yang kemudian dilanjutkan dengan penempatan Salib dirumah-rumah pada abad ke-13.

Dalam “ The Plain truth about Chrismast ” Disebutkan ketetapan tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Yesus dilakukan oleh Paus Julius I di Kota Roma. Setelah itu mulailah perayaan Natal dengan dengan cepat menyebar ke daerah-daerah lain di Eropa seperti Antiokhia, Konstantinopel, Alexsandria dan lainya. Sementara itu, di Indonesia Natal baru dikenal pada permulaan abad XVII, dan sejak tahun 1900-an natal mulai dijadikan sebagai ajang bisnis.

Tidak Semua Orang Kristen Mengakui 25 Desember sebagai hari Natal

Keputusan Paus Julius I mengonversikan 25 Desember sebagai hari lahir Yesus adalah didasari pada Upacara winter soilistice, Yaitu Upacara untuk memperingati kemenangan dewa matahari melawan kegelapan yang biasa dilakukan oleh bangsa romawi atau Sol Invictus (matahari yang tidak terkalahkan). Dengan cara itu ia berharap agar bangsa romawi masuk kedalam agama Kristen.

Ternyata keputusan tersebut tidak dapat diterima, bahkan sangat keras ditentang oleh banyak tokoh Kristen sendiri. Para Tokoh Kristen yang membantah pemerintah saat itu banyak yang dibantai oleh penguasa Roma. Maka berpendapat bahwa 25 Desember adalah perayaan orang-orang kafir karena tanpa mengikutsertakan dasar keagamaan yang sah. Disamping itu dalam injil sendiri tidak didapati keterangan yang jelas mengenai tanggal kelahiran Yesus.

Sebuah artikel yang berjudul ‘ Yang Terlupakan Sejarah ’ (Dipoting Oleh Athala, 11 November 2002) Yang dimuat dalam www.katolik.net disebutkan, “ Yesus tidak pernah mengajarkan bagaimana pose terbaik untuk berdo’a, Kapan Harus berdo’a, dan seterusnya. Semua itu diatur oleh gereja yang dibentuk oleh murid-murid pertama Yesus, dan gereja kemudian menciptakan ligturgiliturgi (Cara-cara penyembahan) Seperti Yang dikenal sekarang ini. Karena gereja berkembang di Italia dan Asia barat, liturginya pun terpengaruh oleh pemikiran orang-orang didaerah tersebut ”.

Sementara itu, dalam injil Lukas pasal 2 ayat 8 dikisahkan tentang saat-saat kelahiran Yesus, “maka dijajahan (Palestina) itupun ada beberapa orang gembala yang tinggal dipadang menjaga ternaknya pada waktu malam ”, Dikisahkan dalam Bibel bahwa Maryam didampingi Yusuf melakukan perjalanan dari Nazareth ke Yudea dalam rangka sensus penduduk. Melihat Kondisi Maryam akan melahirkan, penginapan di cari, tapi penuh, akhirnya terpaksa Maryam melahirkan di kandang ternak. Isa lahir dengan kain lampin seadanya dan dibaringkan dekat palungan, tempat makan ternak dari kayu seadanya. Para ahli banyak yang berpendapat bahwa dibandingkan tanggal 25 Desember saat yang lebih tepat untuk menggambarkan kapan kelahiran Yesus adalah pada musim semi. Sementara itu, di betelhem yang terletak di 9 Km di sebelah selatan yerusallem pada 311/2° LU, Tiap tanggal 25 Desember sedang mengalami musim dingin seperti itu meninggalkan padang dengan berlindung di gua-gua yang disebut grotto yang banyak terdapat disekitar betlehem. Sedangkan di Bibel tercantum, lahirnya Yesus diiringi bintang yang bertaburan, terlihat oleh majusi dari timur (matius 2:1, 10), gembala yang berternak di malam hari (berarti udaranya cukup bersuhu panas. Saat siang hari, para gembala tidak berani berternak karena sangat membahayakan ternaknya).

Secara Logika, jika musim dingin, tak mungkin terjadi kelahiran Yesus dengan suasana Dingin, karena malam hanya penuh bintang yang ada pada musim panas dan gembala dipadang -padang terbuka tak ada pada musim dingin. Sedangkan 25 Desember adalah musim salju. berkenaan dengan hal itu maka orang-orang Kristen (Kafir Laknatulloh Al-Kahdzab/Pendusta) dalam merayakan natal pun berbeda. Antara lain ada yang 2 Januari, 6 Januari, 18 April, 19 April, 20 Mei dan 25 Desember.

Ternyata tidak semua orang Kristen mengakui Tanggal 25 Desember sebagai hari lahir tuhannya. Alasan yang biasanya dikemukakan oleh mereka yang ‘natalan’ pada 25 Desember adalah, “ Tidak ada seorang pun tahu kapan ia lahir. Karena sudah ada yang menetapkan lebih dahulu 25 Desember kita pakai saja, yang penting kita memberikan satu hari dalam satu tahun untuk merayakan kelahirannya ”.

Pernyataan Uskup Barnes dalam buku Rise Of Cristhianity seperti yang dikutip Soleh A Nahdi, juga dari Chatolic Encyclopedia, edisi 1911 tentang Crismas: “ Natal bukanlah upacara gereja yang pertama, melaikan ia diyakini berasal dari mesir, perayaan yang diselengarakan penyembah berhala dan jatuh bulan Januari atau Desember, Kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus ” Penjelasan senada terdapat di Encyclopedia Britanica, edisi 1946.

Mungkin karena saking bingungnya H. Tjengsih mengatakan, “ jangan-jangan Yesus sendiri akan terheran-heran, kok banyak anak manusia menggambarkan aku semaunya ”. (Lihat artikel ‘ Yesus Mana Yang dirayakan saat Natal? Pemikiran Modern tentang Yesus’ oleh : H.Tjengsih dalam buletin GKJMB no.4-tahun 3, Desember 1998, www.gkjmb.or.id).

Kelahiran Nabi Isa ‘alaihis salam Menurut Al Qur’an

Alloh SWT. Dalam surat Maryam ayat 25 berfirman , ” Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu kearahmu niscaya pohon kurma itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu ”.

Berita Al-Quran ini menggambarkan Yesus lahir saat pohon kurma sedang berbuah dengan lebatnya sehingga hanya dengan goyangan lemah seperti ibu pasca melahirkan yang sedang menahan sakit tiada tara, maka buah buahan jatuh berhamburan. Hal ini hanya mungkin terjadi saat musim kurma, Yakni pada musim semi/panas, bukan pada musim dingin (desember).

Di sini Alloh SWT memberikan gambaran yang dapat menjawabnya. Yang penting prinsip kita adalah Isa ‘alaihis salam bukanlah Tuhan, tetapi beliau adalah salah satu manusia yang dipilih Alloh SWT. Untuk menjadi nabi dan rasul-Nya. Dengan demikian, penetapan tanggal 25 Desember sebagai hari natal tidaklah beralasan karena tidak ada dasar bukti yang kuat. Dan, umat Islam tidak usah ikut-ikutan mengucapkan selamat natal bahkan menghadiri perayaannya karena hal itu dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat mengantarkan kepada pengaburan aqidah. Ini dapat dipahami sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan yang secara mutlak bertentangan dengan aqidah Islam. Sekian, Semoga Tulisan ini dapat bermanfaat bagi umat Islam sebagai bahan pencerahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar