Jumat, 14 Januari 2011

Setelah Sudan Pecah, Mesir Target Berikutnya


alt

Pemimpin Koptik menyerukan untuk menciptakan sebuah negara independen Koptik Mesir, demikian dilaporkan Kavkaz Benter mengutip situs Islammemo (11/1/2011).

Tanggal proklamasi pembentukan Negara Koptik Mesir direncanakan akan disamakan dengan tanggal pemisahan Sudan Selatan setelah referendum (yang juga disponsori oleh tokoh-tokoh Kristen).

Dalam pernyataannya, mereka menyebut pembentukan negara, seperti Vatikan, untuk merdeka dari pemerintah Mesir. Pertama-tama yang akan dibentuk adalah badan konstutusional Negara Koptic, yang akan melibatkan ratusan orang Koptic yang tinggal di Mesir dan sekitarnya.

Koran "Mesir" melaporkan bahwa sponsor berdirinya apa yang disebut "negara Koptik" – adalah seorang pemimpin Koptik terkenal yang pro-Israel dan secara permanen selalu menyerukan campur tangan asing dalam urusan internal negara Mesir untuk melindungi Koptik yang tinggal di negeri Spinx itu..

Di antara mereka adalah Morris Sadek, Ketua Majelis Nasional Koptik, yang juga memimpin organisasi Camille, memimpin saluran TV Kristen Kebenaran, dan juga punya saluran TV Kristen ‘Jalan ke North Carolina’.

Surat Pernyataan Kemerdekaan Koptic, dikeluarkan pada hari Minggu (10 Januari) berbarengan dengan demo yang diselenggarakan oleh Koptik untuk mendukung klaim Paus Benediktus XVI yang menyerukan intervensi internasional untuk melindungi orang-orang Kristen dari apa yang mereka sebut "pembunuhan massal Islam".

Para pengagas "negara Koptik" dalam rilisnya menyatakan: "Negara akan mencakup manajemen-diri Koptik di Mesir (semacam otonomi khusus). Pejabat negara "juga akan segera bekerja di dalam dan di luar negeri untuk mendukung gagasan untuk menciptakan sebuah negara baru Koptik Mesir. Ini akan setara dengan keadaan Kurdi di Irak ".

Menurut rencana, gagasan "kemerdekaan" Koptik Mesir, orang-orangnya akan hidup di wilayah yang sama sepanjang perbatasan Mesir dan akan memiliki organisasi politik yang independen dari pemerintah pusat dan punya otorisasi manajemen sendiri (otonomi). Mereka juga akan mengatur pengadilan khusus dan hakim orang Kristen yang akan menghakimi menurut "kitab suci" mereka.

Hukum didasarkan pada "hukum Perancis", disarankan untuk praktek di pengadilan sipil. Pidana proses pengadilan harus menggunakan "hukum internasional", dan berbagai pengadilan lain akan mempertimbangkan litigasi antara Muslim dan Koptik.

Selain Kementerian Publik, lembaga lain yang akan didirikan, termasuk perguruan tinggi dan sekolah Koptik. Telah dicatat bahwa sekolah-sekolah Koptik dan universitas akan memiliki hak pendidikan pemuda dan pelatihan mereka menggunakan bahasa Koptik dalam rangka menghapus " bahasa Arab".

Menurut ide, "negara Koptik" harus menunjuk orang Koptik sebagai Duta Besar di semua negara di dunia, seperti layaknya Vatikan.

Para pemimpin Koptik dalam beberapa hari mendatang akan bertemu dengan anggota Kongres AS dan dengan anggota Komite untuk Praktek Kebebasan Beragama, dalam rangka membahas kemungkinan dukungan oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa untuk menciptakan negara Koptik baru.

Rilis Koptic Mesir diakhiri dengan pernyataan ucapan terima kasih kepada kepala Vatikan dan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, yang telah mendukung Koptik.

Koptic Mesir berasal dari Yunani, beragama Kristen yang jumlahnya sekitar 8-9% dari penduduk Mesir, atau sekitar 6,8 juta orang. Kebanyakan orang Koptik adalah Kristen Monofisit. Dari sudut pandang Ortodoks, ajaran Monofisit dianggap sesat dan dikutuk oleh Konsili IV. Namun, sebagian dari Koptik (sekitar 100 ribu orang) berada dalam perlindungan dengan denominasi Katolik Roma.

Warning untuk Dunia Islam
Jika betul bahwa gagasan mendirikan Negara Koptic Mesir terkait dan selaras dengan pemisahan Sudan Selatan yang digagas oleh tokoh-tokoh Kristen, maka tentunya ini harus menjadi warning bagi Dunia Islam. Haruslah dicermati era pemecahan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim yang nampaknya tengah digencarkan.

Pada era 1980-an, di negeri kita ini populer istilah creative minority, yang merujuk pada realitas di banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim namun kontrol-kendali pemerintahan dan semua lini kehidupan dikuasai kaum minoritas.

Menarik untuk diamati bahwa belakangan ini Kristen minoritas di beberapa negara sedang menjadi pusat pemberitaan. Selain di Mesir minoritas Kristen banyak menjadi permasalahan di beberapa negara.

Misanya di Irak, aksi kekerasan melibatkan warga Kristen sejak 2003 belum juga reda hingga kini. Di Pakistan, seorang wanita tua Kristen dihukum dengan undang-undang Blasphemy karena menghina Nabi Muhammad. Atas desakan negara-negara Kristen Barat, Vatikan dan para kolaborator Pakistan memaksa Undang-undang Blasphemy di amandemen. Rakyat Muslim Pakistan marah, melancarkan mobilisasi demo nasional. Geger Blasphemy Pakistan ini bahkan memakan korban gubernur Punyab Salman Tarees ynang ditembak pengawalnya sendiri gara-gara mendukung amandemen.

Di Nigeria konflik Islam-Kristen mencuat lagi, terutama di kota Jos, Nigeria Tengah. Jumlah penduduk Nigeria 54 juta jiwa, perbadingan Muslim-Kristen seimbang, 40 : 40 sedangkan sisanya masih menganut animism dan kepercayaan tradisional Afrika. Lebih dari 200 kelompok etnis umumnya hidup damai di Nigeria walaupun 1 juta orang terbunuh dalam perang saudara yang terjadi antara 1967 - 1970 dan sejak itu kerusuhan agama terus menghantui.

Sekali lagi, Dunia Islam perlu waspada terhadap langkah-langkah creative minority yang akan selalu menyusahkan umat Islam. Al-Qur’an sudah mengingatkan, mereka tidak akan senang dengan umat Islam dan akan selalu memusuhi sampai umat Islam mengikuti ‘ideologi’ mereka. Juga, kebencian mereka terhadap umat Islam, di dalam hati mereka, jauh lebih besar lagi dari yang di tampakkannya selama ini. (Agusdin/kavkaz/imemo)

Baca berita selengkapnya di http://www.voa-islam.com/lintasberita/suaraislam/2011/01/14/12790/setelah-sudan-pecah-mesir-target-berikutnya/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar