Sabtu, 24 September 2011

PATTIMURA, Mujahid yang "Dikristenkan"


{Team Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi/GPAPB dan Pembina GPAPB}

Hampir semua orang Indonesia mengenal pahlawan Nasional Maliku: Kapitan Pattimura. Tapi tidak banyak orang yang tahu bahwa dia adalah seorang Muslim. Selama ini, dalam buku-buku sejarah, dia selalu disebut sebagai seorang Kristen.

Nama aslinya adalah Ahmad Lussy. Nama sejarah menulisnya sebagai Thomas Mattulessy, yang identik dengan Kristen. Distorsi sejarah ini berlangsung sejak masa Orde Lama hingga Orde Baru dan belum diubah hingga saat ini. hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen.

Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Sapura seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Dia adalah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

menurut sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.

Pattimura bangkit memimpin rakyat Maluku menghadapi ambisi penjajah yang membawa misi Gold (emas/kekayaan), Gospel (penyebaran Injil), and Glory (kebanggaan). Perlawanan rakyat Maluku dilakukan karena kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah Belanda seperti yang dilakukan masa pemerintahan VOC. Selain itu, Belanda menjalankan praktik-praktik monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi, yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Alasan lainnya, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendengng, dan kopi.

Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandoi oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbuhuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.

Berulang kali Belanda mengarahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulang kali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi bebrbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.



Sumber: Tabloid Media Ummat edisi 66, 25 Syawal-8 Dzulqaidah 1432 H/23 September-6 Oktober 2011



-Silahkan Risalah ini disebarkan kepada Umat Islam, semoga jadi amal Shalih-

1 komentar: