Kamis, 22 September 2011

“Preman Sekolahan”

Buah dari pendidikan yang mengabaikan agama, sedang Negara dan para pemimpinnya menyingkirkan Kitabullah



Kiri: Bentrok para murid SMA 6 Jakarta dengan wartawan. Foto: lintasterbaru.com. Kanan:Gilang Perdana, siswa SMAN 6 Jakarta yang dikabarkan diungsikan keluarganya ke Kota Cimahi, setelah terlibat penganiayaan wartawan, belum diketahui keberadaannya. /inilahjabar.com

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا فِيمَا أَنْزَلَ اللَّهُ إلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ } . (ابن ماجه ، وأبو نعيم ، والحاكم ، والبيهقى فى شعب الإيمان ، وابن عساكر عن ابن عمر)

Tidaklah pemimpin-pemimpin mereka tak berhukum dengan kitab Allah dan mereka tidak memilih (wahyu) yang Allah turunkan kecuali Allah akan menjadikan saling bermusuhan di antara mereka. (Hadits Riwayat Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani).



hormati gurumu, sayangi teman

itulah tandanya kau murid budiman

(Pergi Belajar, Ibu Soed)

CITRA pelajar masa kini amat berbeda dengan masa-masa orangtua kita masih muda dulu. Pelajar saat itu (dulu) selain santun dan suka menolong, juga tidak menakutkan. Pada masa-masa itu, bila seseorang tersesat di jalan, hatinya yang semula gundah-gulana sontak menjadi tenang bila bertemu sosok pelajar. Karena, melalui sosok pelajar itu, orang yang sedang tersesat tadi bisa berharap mendapat petunjuk jalan ke arah yang benar. Bahkan tidak jarang si pelajar mengantarkan hingga ke tempat tujuan.



Di sekolah, para pelajar masa itu pada umumnya sangat menghormati guru, apalagi kepala sekolah. Bila kepala sekolah atau guru memasuki halaman sekolah, biasanya dengan berjalan kaki atau bersepeda, secara serempak murid-murid dengan takzim memberi hormat.

Kini, sosok pelajar yang ditemui di jalan-jalan, misalnya saat bubar sekolah, tidak sekedar membuat bising, tetapi juga menakutkan. Ada sebagian pelajar yang berseragam pulang sekolah sambil menghisap rokok, sambil berbicara dengan bahasa yang tidak patut. Ada sebagian lain yang nongkrong di tempat-tempat tertentu, menghasilkan suasana gaduh dan mengganggu orang-orang di sekitarnya.

Kini, sosok pelajar identik dengan kegaduhan, kurang sopan-santun, bahkan tawuran. Saking seringnya, tawuran di kalangan pelajar tidak lagi menjadi sesuatu yang ‘layak’ bagi kalangan pewarta. Namun hal itu tidak berlaku bagi Oktoviardi, wartawan TV Trans7.

Menurut penuturan Oktoviardi, saat itu, Jum’at tanggal 16 September 2011, ia sedang berada di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Waktu menunjukkan pukul 18:30 WIB. Okto sedang menikmati saat-saat istirahatnya dari kerja rutin jurnalistik yang sehari-hari dijalaninya. Menurut ekspektasi orang waras, pukul setengah tujuh petang sosok pelajar seharusnya sudah berada di rumah: sudah mandi, shalat maghrib, makan malam, dan bersiap-siap untuk duduk di meja belajar, dan seterusnya bersama keluarga.

Namun kejadian yang dilihat Okto, sangat luar biasa. Pada keremangan petang, sejumlah pelajar masih berada di sekitar lingkungan sekolah ‘hanya’ untuk tawuran dengan sesama pelajar dari lain sekolah yang lokasinya saling berdekatan: SMA 6 di jalan Mahakam dan SMA 70 di jalan Bulungan. Kedua lokasi sekolah itu, hanya berjarak belasan meter saja.

Okto terdorong meliput. Usai mengambil gambar aksi tawuran, Okto berusaha melengkapinya dengan memenuhi unsur locus (where) antara lain meliput bagian depan salah satu sekolah itu (SMA 6). Upaya Okto sebenarnya lumrah. Namun, tidak lumrah bagi pelaku tawuran dari SMA 6. “…tiba-tba di dekat taman kecil, sekelompok siswa meneriaki saya untuk mematikan kamera.” Jelas Okto.

Tidak sekedar diteriaki, Okto juga dikeroyok, dipukuli, dan kaset berisi rekaman aksi tawuran dirampas. Kejadian yang menimpa Okto jelas bukan di pekarangan SMA 70 (Bulungan) tetapi di SMA 6 (Mahakam). Tanpa harus menguras pikiran keras-keras, akal sehat semua orang sudah pasti bisa menyimpulkan bahwa pelakunya adalah oknum pelajar SMA 6. Sebab, amat mustahil pelajar SMA 70 yang menjadi seteru pelajar SMA 6 berada di pelataran lawannya, kemudian melakukan penganiayaan sekaligus perampasan.

Namun akal sehat seperti itu boleh jadi belum bersemayam di benak Husni (bagian Humas Kesiswaan SMU 6). Ketika Okto meminta pertanggungjawaban pihak sekolah dan menghubungi aparat berwenang (Husni), ia justru cenderung meragukan. Melalui pembicaraan telepon dengan Okto, Husni justru bertanya balik: “…apakah yang melakukan pemukulan adalah siswa dari SMU 6?”

Bahkan ketika itu, Husni juga memberikan pernyataan, bila kasus ini mau dibawa ke jalur hukum, pihak sekolah tidak bertanggung jawab, karena kejadian berlangsung di luar jam sekolah. Mungkin bila Husni cukup bijak dan punya sedikit kecerdasan, ia tidak akan bersikap seperti itu. Sebab, bagaimanapun juga, locus berada di SMA 6 dan oknum pelaku patut diduga keras adalah pelajar SMA 6. Tentu akal sehat kita akan mengeluarkan pertanyaan: “Tanggung jawab siapa bila pelajar SMA 6 di luar jam sekolah masih berada di sekolahnya, melakukan tawuran, menganiaya wartawan dan melakukan perampasan?”

Malam itu juga Okto melaporkan peristiwa yang menimpanya ke Polres Jakarta Selatan.

Kalau pihak sekolah punya sedikit kecerdasan, punya sikap bijak, tentu dengan segera mereka akan merespon laporan Okto sebagaimana disampaikan per telepon kepada Husni. Misalnya, berusaha mengidentifikasi oknum pelaku penganiayaan dan perampasan. Bila memungkinkan, mengembalikan kaset rekaman aksi tawuran yang telah dirampas sebelumnya.

Namun hal itu tidak terjadi. Sampai akhirnya rekan-rekan wartawan yang tergabung dalam Poros Wartawan Jakarta (PWJ) melakukan aksi solidaritas di depan SMU 6, pada hari Senin tanggal 19 September 2011, sekitar pukul 09:30 WIB.

Menurut penuturan Jerry Adiguna (Ketua Pewarta Foto Indonesia-Jakarta), aksi solidaritas dimulai dengan orasi. Sekitar pukul 10:30 WIB Kombes Pol Imam Sugiyanto (Kapolres Jakarta Selatan), menghampiri wartawan pelaku aksi dan memfasilitasi pertemuan dengan Ibu Kadarwati Mardiutama (Kepala SMA 6).

Saat pertemuan masih berlangsung, sekitar pukul 11:00 WIB kegiatan belajar mengajar berakhir, dan sejumlah pelajar SMA 6 meninggalkan kelas. Saat itulah terjadi inisden pelemparan mangkok ke arah wartawan. Kemudian secara tiba-tiba Panca Syurkani (pewarta foto dari Media Indonesia) diserang pelajar SMA 6. Berlanjut dengan saling ejek. Namun situasi bisa dikendalikan aparat kepolisian.

Para wartawan pelaku aksi solidaritas meminta pertanggungjawaban pihak sekolah terhadap aksi pemukulan terhadap Panca. Maka, Kapolres pun kembali menemui pihak Kepala Sekolah. Sekitar pukul 13:00 WIB, sejumlah pengurus PFI dan sebagian wartawan menunju Polres Jaksel untuk membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Sementara itu, sebagian wartawan lainnya masih berada di depan SMA 6.

Tiba-tiba, sekelompok wartawan ini didatangi ratusan siswa SMA 6. “Provokasi kericuhan kembali terjadi. Kedua pihak kembali saling ejek, hingga terjadi penyerangan terhadap wartawan.” Demikian penjelasan Jerry. Akibatnya, lebih dari 10 wartawan mengalami luka-luka, dua diantaranya menderita luka serius. Parahnya lagi, mobil Trans TV ikut dirusak siswa.

Salah satu korban dari pihak wartawan adalah Yudhis Pranoto, fotografer koran Seputar Indonesia, yang menderita luka di pelipis kanannya. Saat bentrokan, Yudhis berusaha menghindar. Sayangnya, ia terjatuh. Saat mencoba bangun ia ditendang dari belakang. Bahkan sebuah conblock melayang ke arah muka Yudhis, beruntung ia bisa menghindar. Namun, Yudhis sempat tidak sadarkan diri dan dilarikan ke RSPP (ruamh sakit pusat pertamina). Meski sempat muntah-muntah, Yudhis tidak mengalami gegar otak. Korban lainnya, Banar Fil Ardhi (fotografer Kompas), mengalami luka di bagian dahi kirinya. Korban lainnya adalah Septiawan (dari Sinar Harapan).

Tawuran atau perkelahian antar pelajar, khususnya antara SMA 6 dan SMA 70, sudah berlangsung tahunan. Bahkan, konon SMA 70 berasal dari penggabungan dua sekolah, yaitu SMA 9 dan SMA 11, yang ketika masih terpisah siswa-siswanya sering berkelahi, sehingga digabung (sekitar tahun 1982). Kini, setelah dua sekolah itu menjadi SMA 70, lawan seterunya adalah SMA 6, yang lokasinya tak jauh dari SMA 70.

Dari kasus perkelahian antara SMA 6 versus SMA 70 (16 Sep 2011) yang kemudian berkembang menjadi bentrokan fisik antara pelajar SMA 6 dengan sejumlah wartawan yang menggelar aksi damai (19 Sep 2011), menujukkan bahwa premanisme sudah mulai dianut sejak anak-anak kita masih duduk di bangku sekolah.

Bahkan, boleh jadi, premanisme itu memang dibenarkan oleh pihak sekolah, sebagaimana terkesan dari kicauan gilang perdana pada akun twitter-nya. Antara lain @Gilang_Perdanaa mengatakan: “Guru pada belain kita karena kita gak salah.” (Republika 21 Sep 2011, hal. 21)

Kalau kicauan gilang perdana benar, betapa bobroknya institusi pendidikan kita. Maka, tak heran, bila di negara kita menghasilkan pejabat bermental preman, karena sejak di sekolah menengah mereka sudah dikenalkan dengan premanisme. Meski tidak masuk kurikulum resmi atau ekstra kurikuler, nampaknya premanisme sudah dipraktekkan langsung.

Penyakit Sosial

Perkelahian antar pelajar, memang sudah menjadi semacam penyakit sosial yang sampai kini tidak ditemukan obatnya, meski sudah dilakukan upaya-upaya antisipasi dan pencegahan. Misalnya, sebagaimana dilakukan oleh sejumlah guru yang tergabung dalam Satuan Tugas Pelajar Dinas Pendidikan Kota Bogor.

Pada hari Selasa tanggal 20 September 2011, para guru itu merazia tiga titik yang kerap dijadikan lokasi tawuran pelajar. Yaitu di Warung Jambu, Tugu Narkoba, dan Bogor Trade Mall. Razia yang dipimpin oleh MTb. Ruhjani Atmakusumah (Ketua Harian Satgas Pelajar Kota Bogor), berlangsung antara pukul 12.00 hingga 14.30 WIB.

Setiap pelajar yang ditemui pada saat razia, akan dicatat namanya, kelas dan sekolahnya. Bila saat pemeriksaan ditemukan benda-benda tertentu yang diduga akan digunakan sebagai alat tawuran, maka akan disita, dan pelajar yang bersangkutan akan dilaporkan ke dinas pendidikan. Sedangkan sanksi akan dikenakan oleh pihak sekolah masing-masing.

Meski upaya-upaya preventif sudah dilakukan, namun perkelahian antar pelajar kerap terjadi. Setidaknya, upaya pencegahan itu dapat mengurangi frekwensi terjadinya tawuran atau perkelahian antar pelajar. Menurut MTb. Ruhjani Atmakusumah, pada tahun 2010-2011, tujuh siswa tewas akibat tawuran pelajar. Bahkan, korban tawuran bukan lagi pelajar, tapi juga masyarakat umum. Termasuk wartawan, sebagaimana terjadi di Bulungan-Mahakam pada 16-19 September 2011.

Upaya-upaya preventif juga dilakukan oleh aparat kepolisian dengan menggelar Operasi Kilat Jaya yang sengaja digelar pada jam pulang sekolah, untuk mencegah terjadinya tawuran antar pelajar. Hal ini sebagaimana dilakukan secara rutin oleh aparat kepolisian di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Misalnya, pada hari Senin tanggal 19 September 2011, aparat Polsek Tanjung Priok menghentikan truk yang sedang melintas di jalan R.E. Martadinata (di depan pintu I Terminal Tanjung Priok). Kendaraan bak terbuka itu ditumpangi sekitar 20 pelajar yang diduga akan tawuran di daerah Volker, Ancol, yang memang terkenal sebagai salah satu lokasi tawuran pelajar di kawasan Jakarta Utara.

Satu per satu tas dan barang bawaan para pelajar itu diperiksa. Dari sebagian tas pelajar itu ditemukan senjata tajam berupa parang dan sejumlah gir roda. Karena ditemukan senjata tajam, maka ke-20 pelajar berikut truknya digelandang ke Polsek Tanjung Priok.

Tindakan antisipatif juga dilakukan oleh aparat Polsek Jatinegara. Misalnya, pada hari Rabu tanggal 14 September 2011, aparat menangkap RF (pelajar SMK Bhakti Jakarta), dan IA (pelajar SMK Walisongo Jakarta). Keduanya kedapatan membawa senjata tajam jenis golok yang disimpan di dalam tasnya. Mereka ditangkap saat melintas di Terminal Bus Kampung Melayu, dan diduga akan melakukan aksi tawuran. Keduanya diamankan di Mapolsek Jatinegara. Setelah dijemput kedua orangtua masing-masing, dan membuat surat pernyataan tidak mengulangi hal yang sama, keduanya dizinkan pulang. (inilah.com edisi Rabu, 14 September 2011 | 16:10 WIB)

Namun, meski langkah antisipasi dan pencegahan sudah ditempuh, tawuran tetap saja terjadi. Pada hari yang sama, Rabu 14 September 2011 sore, terjadi tawuran antara siswa SMK 8 Cempaka Putih Jakarta Pusat dengan siswa SMK 5 Jatinegara Jakarta Timur. Di lokasi tawuran, menurut beritajakarta.com, tampak puluhan pelajar dalam balutan seragam sekolah saling lempar batu di atas rel KA dekat stasiun Jatinegara Baru, Jalan Gusti Ngurah Rai, Jakarta Timur.

Meski tawuran berlangsung ‘hanya’ sekitar 30 menit, namun sempat memacetkan arus lalu lintas dari arah Klender menuju Cakung. Karena, banyak pengendara sepeda motor yang memberhentikan kendaraannya, untuk melihat aksi tawuran yang sedang terjadi. Tawuran berakhir dengan sendirinya setelah salahsatu kubu pelajar memilih untuk meninggalkan lokasi.

Dua hari sebelumnya, Senin 12 September 2011, terjadi tawuran antara pelajar SMP 79 Kemayoran berhadapan dengan pelajar SMP 269 Kemayoran, Jakarta Pusat. Bermula dari saling ejek. Tawuran yang terjadi sekitar pukul 15:30 WIB di di Jalan Angkasa Ujung, Kemayoran, Jakarta Pusat ini, menyebabkan tewasnya Aldino Roke Utama (14 tahun) pelajar SMP 79, akibat pukulan batu di bagian kepalanya. Menurut Kompol Sudanto (Kapolsek Kemayoran), aparatnya sudah berupaya melerai. Namun mereka tidak berdamai, tetapi melanjutkan tawuran di tempat lain.

***

Buah dari pendidikan yang mengabaikan agama, sedang Negara dan para pemimpinnya menyingkirkan Kitabullah

Aksi tawuran itu terjadi pada bulan September 2011, di Jakarta. Begitulah bila tawuran antar pelajar sudah menjadi semacam penyakit kronis yang tidak pernah bisa ditemukan obatnya. Meski aparat keamanan dan kalangan pendidik yang punya kepedulian sudah menempuh upaya pencegahan dan antisipasi, tawuran tetap saja berlangsung, bagai tradisi.

Kelak, ketika mereka sudah dewasa dan menjadi aparat negara, menjadi petinggi negara, tradisi itu juga kemungkinan ikut terbawa.

Benarlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا فِيمَا أَنْزَلَ اللَّهُ إلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ } . (ابن ماجه ، وأبو نعيم ، والحاكم ، والبيهقى فى شعب الإيمان ، وابن عساكر عن ابن عمر)

Tidaklah pemimpin-pemimpin mereka tak berhukum dengan kitab Allah dan mereka tidak memilih (wahyu) yang Allah turunkan kecuali Allah akan menjadikan saling bermusuhan di antara mereka. (Hadits Riwayat Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani).

Semua itu karena pendidikan agama Islam sangat diabaikan di negeri ini, sehingga di dalam dada-dada mereka tidak terisi iman, ketawadhu’an, kekhusyu’an, dan sifat-sifat baik lainnya. Yang mengisi dada-dada mereka adalah hawa nafsu dan bisikan syetan, baik syetan manusia maupun jin yang semuanya hanya menyeret kepada kemunkaran alias keburukan. Itupun tampaknya masih bangga pula. Itulah kejahatan ganda, yang tidak dimasukkan dalam dosa yang diampuni, dalam Islam disebut mujahirin, orang-orang yang terang-terangan dalam kemaksiatannya. Termasuk mujahirin pula, orang yang bermaksiat, lalu masih pula menceritakannya.

عن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ : سمعت رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – ، يقول : (( كُلُّ أُمَّتِي مُعَافى إلاَّ المُجَاهِرِينَ ، وَإنّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ باللَّيلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيهِ ، فَيقُولُ : يَا فُلانُ ، عَمِلت البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ ، وَيُصبحُ يَكْشِفُ ستْرَ اللهِ عَنْه )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua ummatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali mujahirin (orang yang terang-terangan bermaksiat ataupun memberitahukan kemaksiatannya pada orang lain tanpa ada hajat yang mendesak). Dan sesungguhnya termasuk al-mujaharah (terang-terangan) bila orang itu pada malam hari berbuat kejahatan, kemudian pada waktu paginya dia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku berbuat demikian dan demikian’ padahal malam harinya Rabb-nya telah menutupi (aibnya tersebut), namun pagi hari dia sendiri yang membuka apa yang telah ditutup oleh Allah,” (HR.Bukhari 5/3254 dan Muslim/ muttafaq ‘alaih).

--------------------II---------------------------II----------------------------------------II---

Diambil dari situs Al-Ustadz Drs. H. Hartono bin Ahmad Jaiz Hafidzhahulloh, dkk di Situs Website http://nahimunkar.com/%E2%80%9Cpreman-sekolahan%E2%80%9D/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar