Selasa, 13 Desember 2011

Mewaspadai… BAHAYA TASYABBUH/ (menyerupai orang kafir)

http://1.bp.blogspot.com/_2UCtzK_R1xw/Sdnvkrwr8MI/AAAAAAAAAGQ/irNYuz1uj_c/s320/3289795389_0cfc1d26c6.jpg

Mewaspadai… BAHAYA TASYABBUH/ (menyerupai orang kafir)

Abu Jundulloh Muhammad Faisal, SPd. M.MPd

(Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi)

Rasulullah Shalallahu’ Alaihi wa Salam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari shahabat Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6025)

Islam adalah agama yang paripurna. Allah telah menyempurnakan agama yang telah Ia ridhai ini bagi segenap kaum muslimin. Siapa pun, tidak ada yang berhak menambah, mengurangi, atau merubah agama ini. Melakukan penambahan, pengurangan atau perubahan sedikit saja pada substansi ajarannya, berarti mencederai hak Allah dan Rasul-Nya.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS.Al-Maidah: 3)

Rasulullah meninggalkan umatnya setelah segala kebaikan yang diinginkan Allah dari manusia tuntas diajarkan, dan seluruh keburukan yang dibenci Allah selesai beliau peringatkan. Maka, jika masih saja ada orang yang ‘nekad’ memandang kebaikan atau keburukan dalam agama ini hanya dengan dasar reka-reka akal, intuisi atau tradisi leluhur, tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan, sungguh berarti ia telah menuduh Rasulullah berbuat khianat.

Al-Imam Malik bin Anas pernah mengatakan: “Barang siapa yang mengada-ngada dalam agama (bid’ah) yang dia pandang sebagai sebuah kebaikan, maka sunggguh berarti ia telah menuduh Muhammad telah mengkhianati risalah (Islam) ini”.

Perbuatan mengada-ngada dalam agama dikenal dengan istilah bid’ah. Jauh-jauh hari sebelum perbuatan ini ramai dilakukan oleh kaum muslimin seperti sekarang –Allahul musta’an, Rasulullah kerap memperingatkan umatnya agar tidak terjatuh padanya. Ini menunjukkan bahwa prilaku bid’ah sangat berbahaya. Kemurnian syariat ini seharusnya dipertahankan, dijaga dan dijauhkan dari asupan-asupan lain yang tidak berasal dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sumber syariat agama ini.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ngada dalam perkaraku ini (agama ini) yang tidak berasal darinya, maka perbuatan itu tertolak”. (HR. Bukhari Muslim)

“Jauhkanlah diri kalian dari perkara yang diada-adakan, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HR.Ibnu Majah)

Inti yang diinginkan oleh larangan berbuat bid’ah juga terdapat dalam larangan tasyabbuh, yaitu perbuatan menyerupai agama atau kelompok lain selain Islam. Perbuatan bid’ah dan tasyabbuh dapat merusak citra dan wibawa Islam dan kaum muslimin sebagai agama dan umat terbaik, istimewa dan berciri khas. Oleh karena itu, sebagaimana Rasulullah membenci bid’ah, Rasulullah pun sangat membenci tasyabbuh.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut”. (HR. Abu Dawud) “Bukan umat kami orang yang menyerupai kaum selain kami”. (HR. Tirmidzi)

Umat Islam tidak membutuhkan nilai-nilai lain di luar agamanya untuk menjadi umat yang digdaya di dunia, dan sukses di akhirat kelak. Meniru atau mengadopsi konsep, prilaku dan tradisi dari agama atau ideologi di luar Islam merupakan bentuk ketidakpercayaan diri yang selayaknya tidak terjadi pada umat penganut agama yang mulia ini.

Saat ini, umat Islam telah begitu terpuruk. Salah satunya disebabkan karena penyakit bid’ah dan tasyabbuh yang mewabah dengan sangat akut di kalangan kaum muslimin. Karena perbuatan bid’ah dan tasyabbuh, umat Islam secara otomatis menjadi semakin jauh dari sunnah, kian terasing dari akidah yang lurus, ibadah yang benar dan akhlak yang baik.

Tasyabbuh dan bid’ah adalah dua prilaku yang keduanya sering berjalan berkelindan, satu sama lain saling melengkapi, merusak tatanan agama, meruntuhkan sendi-sendi akidah, menodai orisinalitas sunnah dan merongrong independensi nilai moralitas kaum muslimin.

Padahal Allah memerintahkan agar manusia tidak menyimpang dari jalan-Nya. Allah melarang seluruh manusia untuk mengikuti jalan-jalan lain selain jalan-Nya. “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (QS. Al-An’am: 153)

Tasyabbuh dan thaifah manshurah

Sejak empat belas abad yang lalu, fenomena tasyabbuh diproyeksi oleh Rasulullah sebagai kenyataan yang pasti akan terjadi pada umatnya. Selangkah demi selangkah, sedepa demi sedepa, umat ini akan mengikuti tradisi orang-orang kafir, khususnya orang-orang Yahudi dan Nashrani.

Dari Abu Sa’id, Rasulullah bersabda, “Sungguh kelak kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, hingga jika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun akan mengikuti mereka.” Kami kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, Yahudi dan nashrani kah yang di maksud?” beliau menjawab, “siapa lagi?”. (HR. Bukhari)

Pada hadis ini, Nabi mengabarkan dengan pasti tentang apa yang sungguh akan dialami oleh kaum muslimin sepeninggal beliau. Kebenaran kabar tersebut telah begitu jelas kita saksikan dewasa ini. Kemuduran pun dialami kaum muslimin, menyusul prilaku tasyabbuh yang kian menjadi trend pada kehidupan internal mereka. Namun tentu saja, kabar ini tidak bermakna akan terjadi pada seluruh elemen umat. Karena pada hadis yang lain, Rasulullah juga mengabarkan bahwa akan terus ada sekelompok orang dari umatnya yang tetap memegang kebenaran dengan sungguh-sungguh.

Hal ini ditunjukkan oleh beberapa sabda Nabi: “Akan terus ada sekelompok dari umatku yang tetap menampakkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang merendahkan mereka, hingga datang keputusan Allah (hari kiamat) sedang mereka dalam kondisi itu”. (HR. Bukhari&Muslim)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku, atau umat muhammad dalam kesesatan, dan tangan Allah bersama jama’ah” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh syaikh Albani)

Semua yang terjadi pada umat ini telah nabi nyatakan sebagai ketentuan yang Allah takdirkan. Termasuk didalamnya fenomena tasyabbuh. Akan tetapi, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa seorang muslim boleh menyerah karena ketentuan ini.

Yang seharusnya kaum muslimin lakukan adalah berupaya menyelamatkan diri dari semua yang terjadi. Karena Allah juga menjanjikan pertolongan, pembelaan dan keteguhan hingga hari kiamat bagi orang-orang yang beriman. Apa yang dikabarkan oleh nabi diatas semestinya difahami oleh kaum muslimin sebagai sebuah tahdzir (peringatan) atas prilaku yang tidak direstui oleh syariat ini, yang seharusnya diwaspadai.

Wilayah tasyabbuh

Perbuatan tasyabbuh yang dilakukan kaum muslimin sangat bervariasi. Perbuatan ini merambah berbagai wilayah ajaran agama. Tasyabbuh tidak hanya melanggar batas-batas moral, namun juga menerobos prinsip-prinsip akidah dan ibadah.

1. Tasyabbuh dalam akidah

Bentuk tasyabbuh yang terjadi pada tataran akidah diantaranya begitu beragam. Sejumlah perbuatan syirik atau wasilah menuju perbuatan tersebut diantaranya diwarnai oleh sikap tasyabbuh.

• Bersikap qhuluw (melampaui batas) dalam meyakini kedudukan para nabi dan orang-orang shaleh. Kegiatan ritual dalam rangka mengagungkan kubur para wali dan orang-orang shaleh bukan hal baru. Di negara-negara kaum muslimin, kegiatan ini sudah sangat lumrah. Mereka menganggap bahwa melakukan ibadah seperti shalat, berdo’a, membaca al-Quran di kubur orang shaleh, bahkan bertawasul dengan mereka adalah ibadah yang diridhoi oleh Allah.

Mereka tidak menyadari bahwa kegiatan-kegiatan itu mengandung kesyirikan atau sebagai sarana kepadanya yang dapat membahayakan akidahnya. Perbuatan ini telah diwanti-wanti oleh Nabi sebagai perbuatan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nashrani.

Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah bersabda, “laknat Allah atas orang Yahudi dan Nashrani, ketika mereka menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (HR. Bukhari Muslim) Membangun mesjid di atas kuburan, thawaf mengelilingi kuburan, bertabaruk (meminta berkah) dari kubur-kubur itu jelas melanggar larangan Nabi di atas.

Perbuatan tersebut adalah kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nashrani yang dilaknat oleh Allah. Sikap qhuluw kepada Nabi juga banyak dilakukan kaum muslimin saat ini dengan acara-acara yang di dalamnya disenandungkan pujian dan syair yang mengandung panyandaran sifat kepada Rasulullah yang tidak layak baginya.

Dari Umar, beliau berbicara di atas mimbar, “saya mendengar Nabi bersabda, “Janganlah kalian berlebih-lebihan memuji kepadaku, sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan kepada putra Maryam, aku hanyalah hamba Allah, maka katakanlah abdullah wa rasuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya)”. (HR. Bukhari)

• Melakukan perubahan kandungan Al-quran dan sunnah dari maknanya yang benar.

Perbuatan ini juga Allah nyatakan sebagai perbuatan orang-orang kafir. Ini lah yang kemudian juga diperbuat oleh sebagain ahli bid’ah seperti sekte Jahmiyah, Muktazilah, khawarij, Rafidhah, Asy’ariyah dan lain-lain. “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya…”. (QS. An-Nisa: 46)

Kelompok-kelompok ini terjatuh pada perbuatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir ketika mereka mencoba merasionalisasi wahyu Allah, sehingga mereka justru merubah, menggeser kandungan maknanya dari pemahaman yang benar. Penyimpangan terjadi pada mereka saat mereka mendahulukan akal mereka dan menjadikan wahyu Allah sebagai pengikutnya, bukan yang diikuti.

Dewasa ini, dari sejak kaum muslimin mulai lemah dan mengalami kemunduran, pengaruh-pengaruh zindiq juga mulai dengan mudah disusupkan oleh orang-orang kafir orientalis. Anehnya, pengaruh ini justru laris di kalangan orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai “intelektual muslim”. isu-isu seperti sekularisme, plularisme agama, emansipasi-feminisme, liberalisme dan juga sosialisme mulai lantang mereka jajakan.

Isu-isu yang postulatnya berasal dari konsepsi orang-orang Barat itu diadaptasi sedemikian rupa ke dalam wilayah ajaran Islam. Celakanya semua itu kemudian dijustifikasi dengan pandangan-pandangan keislaman yang parsial, menjadi seolah-olah memiliki dasar dalam Islam. Prilaku membeo (tasyabbuh) orang-orang kafir ini lalu dibungkus dengan jargon pembaruan dan moderinisasi. Sayangnya banyak kaum muslimin yang tersihir dengan ajakan mereka.

2. Tasyabbuh dalam ibadah

Dalam ibadah, praktek tasyabbuh tidak kalah banyak. Salah satunya adalah acara-acara peringatan hari besar selain hari raya idul fitri dan idul adha yang marak dilakukan oleh kaum muslimin. Seperti merayakan maulid Nabi, Isra mi’raj, tahun baru hijriyah, nishfu sya’ban, hari asyura dan lain lain.

Peringatan-peringatan ini tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kegiatan itu justru berasal dari kebiasaan orang-orang yahudi dan nashrani. Mereka selalu menjadikan hari yang dianggapnya spesial sebagai hari raya. Dari dua sisi ini; penyerupaan dengan orang kafir dan tidak disyariatkannya oleh Allah dan Rasulullah, perbuatan tersebut haram dilakukan.

Selain peringatan yang disandarkan kepada agama, saat ini kaum muslimin juga terbiasa dengan peringatan-peringatan lain seperti hari kemerdekaan, hari ibu, hari anak dst. Bahkan, mereka tidak lagi merasa berdosa saat melakukan peringatan-peringatan yang jelas-jelas milik orang kafir, seperti valentine day, ulang tahun dengan tiup lilin, tahun baruan dengan acara tiup terompet dsb.

Allah SWT telah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan perayaan orang-orang kafir sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya: “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-zuur”. (QS. Al-Furqan: 72)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata tentang tafsir ayat tersebut: “Dan sungguh telah berkata lebih dari satu orang dari kalangan salaf tentang firman Allah SWT: Mereka mengatakan (tentang makna az-zuur) yaitu hari-hari raya orang kafir. (Majmu Fatawa, 25/331)

Maka tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menghadiri perayaan orang-orang kafir terlebih merayakannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga menjelaskan bahwa semua perayaan itu dianggap munkar karena padanya terdapat pengagungan (ta’dzim) terhadap waktu tertentu. Seharusnya, pengagungan ini didasarkan pada dalil yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Pengkhususan terhadap satu waktu atau tempat untuk diagungkan atau dianggap spesial serta bagaimana cara mengagungkannya adalah hak Allah.

Misalnya, dalam satu hari, Allah mengkhusukan waktu sepertiga malam sebagai waktu spesial untuk beribadah dan bermunajat. Dalam satu minggu, Allah mengkhusukan hari jum’at sebagai “sayyidul ayyam”, tuan seluruh hari. Dalam satu bulan ada “ayymu baidh”, tiga hari di pertengahan bulan, yang Allah mensyariatkan shaum pada hari-hari itu. Lalu dalam satu tahun Allah mengkhusukan bulan ramadhan sebagai tuan seluruh bulan, tanggal 1 syawwal dan 10 dzul hijjah sebagai dua hari raya kaum muslimin.

Dengan demikian, orang yang mengkhusukan, mengagungkan atau menganggap spesial suatu waktu atau tempat, berarti ia telah membuat syariat, terlepas bagaimana pun caranya menspesialkan waktu atau tempat tersebut. “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih”. (QS. Asy-Syura: 21).

Kemudian lebih rinci Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan: “Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk meniru-niru mereka dalam hal-hal yang dikhususkan untuk perayaan-perayaan mereka. Tidak pula dalam makanan, pakaian, mandi, menyalakan api, meliburkan kebiasaan bekerja atau beribadah, atau yang selainnya. Dan tidak boleh untuk mengadakan pesta, memberikan hadiah, atau menjual sesuatu yang membantu dan bertujuan untuk acara tersebut. Serta tidak boleh membiarkan anak-anak kecil atau yang seusianya untuk bermain-main kaitannya dengan perayaan tersebut dan tidak boleh memasang hiasan (menghiasi rumah/ tempat tertentu dalam rangka menyemarakkan perayaan tersebut)”. (Majmu’ Fatawa, 25/329)

3. Tasyabbuh dalam akhlak

Dalam wilayah ini, tradisi tasyabbuh sudah begitu merajalela. Perbuatan-perbuatan keji dan mungkar, akhlak rendah dan tidak terpuji, kebiasaan-kebiasaan haram, yang semuanya diimpor dari orang-orang kafir dengan mudahnya kita saksikan di lingkungan kaum muslimin. Hal ini diperparah dengan kemudahan-kemudahan informasi dan hiburan yang dapat kaum muslimin nikmati kapan saja. Media seperti TV diantaranya, sangat berperan membentuk moral masyarakat islam yang buruk. Lewat suguhan-suguhan acara yang banyak bertentangan dengan akhlak dan keyakinan Islam, tanpa sadar masyarakat Islam mengambil tutunan hidupnya dari situ.

Diantara perbuatan tasyabbuh dalam prilaku dan akhlak adalah pergaulan bebas. Pergaulan bebas yang nyata-nyata berasal dari budaya Barat itu sekarang sudah tidak asing lagi. Sekat-sekat suci yang seharusnya dijaga, demi keseimbangan hidup yang baik, hacur berkeping-keping oleh prilaku yang sudah tidak lagi mengindahkan norma-norma Agama. Saat ini, pergaulan antara lawan jenis menjadi tidak berbatas. Dengan bebasnya kaum laki-laki dan perempuan bergaul, bertemu, berpasang-pasangan tanpa hubungan yang halal, bahkan berzina dengan tanpa rasa malu. Hamil diluar nikah, sudah bukan barang baru lagi kita temukan dalam masyarakat yang notabene kaum muslimin.

Padahal Islam sangat ketat mengatur interaksi antar lawan jenis ini. Ada beberapa perintah dan larangan dalam Islam terkait masalah ini. Diantaranya, Perintah menutup aurat, menundukkan pandangan, larangan berkhalwat, bepergian tanpa mahram, bersentuhan, ikhtilath dan berzina. Bahkan, sejumlah hukuman berat seperti rajam untuk perzinahan dan cambuk sebanyak delapanpuluh kali untuk orang yang menuduh wanita lain berzina wajib diberlakukan dalam undang-undang Islam.

Sejumlah aturan yang ditetapkan Islam diatas tentu bukan untuk mengerangkeng kebebasan yang menjadi hak hidup setiap manusia. Aturan ini bukan untuk memasung aktifitas manusia dalam berdinamika dan bekerja memenuhi hajat dan kepentingannya. Justru, aturan ini sarat dengan maslahat dan manfaat. Dengan aturan ini, Islam menghendaki ketertiban, keseimbangan dan keharmonisan hidup yang produktif. Dengan aturan ini juga, Islam berusaha mencegah kekacauan, kesemrawutan dan ketidaknyamanan hidup yang kontra produktif.

Perintah menutup aurat, terkhusus bagi wanita, adalah diantara ajaran penting yang seharusnya dijaga dengan baik. Ia adalah pintu dari segala aktifitas keji di atas. Membuka aurat Allah nyatakan sebagai perilaku orang-orang kafir jahiliyyah yang tidak boleh diikuti.

Allah berfirman, ”dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku (tabarruj) seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (QS. Al-Ahzab : 33)

Ayat ini melarang para wanita kamu muslimin untuk berhias dan bertingkah laku (tabarruj) seperti orang-orang jahiliah. Wanita jahiliah adalah wanita yang tidak mengenal kesopanan dalam berpakaian, bertingkah laku dan bergaul dengan lawan jenis. Karena tingkah laku yang tanpa aturan itu, fahisyah dan kemungkaran tersebar di mana-mana. Islam kemudian datang dengan sejumlah aturan yang membatasi pergaulan dan interaksi kaum wanita.

Demi keseimbangan sosial dan kenyamanan hidup bermasyarakat, etika pergaulan ini Allah tetapkan agar ketimpangan dan keserawutan hidup bisa dicegah dan ditanggulangi.

Penutup

Apa yang penulis angkat di atas adalah hanya beberapa fenomena tasyabbuh. Banyak fenomena lain yang sebetulnya layak diangkat. Mudah-mudahan kita menjadi waspada, mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat melihat kebenaran dan mengamalkan kebaikan.

Wallahu ‘alam bish-shawab

(Dikutip dari artikel Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql berjudul: “Mantasyabbaha biqoumin Fahuwa Minhum/“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka, dll”)


info selengkapnya bisa dilihat pula di situs website http://ansharullah.com/?p=611

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar