Kamis, 19 Januari 2012

Kebejatan Kristenisasi



Selama puluhan tahun kaum muslimin Indonesia boleh berbangga hati dengan
julukan “komunitas muslim terbesar di dunia” yang disandangnya.
Berdasarkan Survey Antar Sensus (Supas) yang diiakukan oleh Biro Pusat
Statistik (BPS) tahun 1990, tercatat bahwa dari 200 juta jiwa,
prosentase umat Islam mencapai 87,3 persen (dibulatkan menjadi 90
persen) . Sementara umat Kristen Protestan hanya 6 persen, umat
Katolik 3,6 persen, Hindu 1,8 persen, Budha 1 persen dan agama lain 0,3
persen.
Sebagai dai, kita tidak boleh silau mata dengan besarnya angka-angka
mayoritas di atas. Apalagi, data-data terkini, mencatat bahwa jumlah umat
Islam anjlok drastis dari 90 persen menjadi 75 persen (tabloid SIAR edisi
No. 43, 18-24 Nopember 1999 hal. 14).
Terlepas dari validitas dan akurasi data di atas, perlu dicermati pula
hasil temuan Litbang Departemen Agama, bahwa panyebab penurunan populasi
umat Islam nusantara itu ada dua hal:Injil Pertama, Keberhasilan program KB yang dilakukan dengan gencar kepada kaum muslimin, sementara kepada umat non Islam, program KB tidak pernah didengungkan, nyaris tak terdengar. Dengan demikian, program KB mengakibatkan pertumbuhan populasi umat Kristen jauh lebih cepat
dibandingkan dengan pertumbuhan populasi umat Islam.
Kedua, Keberhasilan program Kristenisasi yang dilakukan dangan gencar,
semakin hari semakin canggih dan tidak mengindahkan kode efik penyiaran
agama.
Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa penyimpangan-penyimpangan
penyiaran agama sering kali dipakai para missionaris untuk menyebarkan
Injil dan kekristenan di nusantara, antara lain:
Pembangunan Gereja di lingkungan masyarakat Mayoritas Muslim
Di tengah-tengah warga mayoritas muslim, pihak Salib melanggar SKB menteri
dengan membangun gereja yang megah. Untuk mengisi dan meramaikan gereja
pada saat kebaktian, didatangkanlah jemaat Kristen dari tempat lain yang
berjauhan. Dengan demikian, syiar mereka berlahan-lahan menarik simpati
warga yang lemah iman.
Kasus yang terbaru adalah terusiknya ketenangan warga Depok dengan
kehadiran GPIB Shalom, akhirnya membuahkan penanganan ilegal. Sebagai kado
pada ulang tahunnya yang ke-31, GPIB Depok yang agresif itu dibakar warga.
Sejak awalnya, pendirian gereja itu selalu ditentang warga sekita dengan
alasan karena lokasi itu mayoritas Islam. Sedangkan keluarga Kristen hanya
beberapa gelintir orang saja. Dengan sikap nekadnya, maka pihak Kristen
mendirikan GPIB Shalom, tepatnya d i Jl. Kembang Lio Boji, Depok, Bogor,
Jawa Barat. Cara pendiriannya pun ditempuh melalui lobi-lobi licik.
Setelah gareja itu berdiri megah, maka untuk mengisinya didatangkan
orang-orang Kristen dari tempat lain yang berjauhan. Setiap Minggu,
kegiatan gereja tidak pernah sepi oleh orang-orang Kristen impor. Dengan
syiar Kristen ini, maka beberapa keluarga musl im yang amblas iman
Islamnya, murtad menjadi Kristen, mempertuhankan Yesus.
Namun, umat Kristen yang cuma segelintir itu semakin berani. Dengan
semboyan maju tak gentar, ultimatum serius itu dianggapnya sebagai gertak
sambal yang tidak menakutkan. Akhirnya, ultimatum warga menjadi kenyataan.
Setelah sekian lama memberikan toleran si sambil menahan emosi, maka pada
hari Selasa, 2 Nopember 1999 dini hari, GPIB Shalom Depok diamuk masa,
dirusak dan dibakar habis. Kesabaran manusia ada batasnya.
Kristenisasi kepada Pasien Muslim
Di beberapa rumah sakit, misalnya di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo
Jakarta, kepada pasien muslim dibagi-bagikan leaflet (brosur) tentang
penghiburan dan penyembuhan Yesus Kristus kepada orang-orang sakit. Di
rumah sakit Advent Bandung, pasien muslim diajak berdoa berdama oleh
rohaniawan rumah sakit dengan tata cara peribadatan Kristen.
Kristenisasi melalui jalur Pemerkosaan Gadis-Gadis Muslimah
Khairiyah Anniswah alias Wawah, siswi MAN Padang, setelah diculik dan dijebak oleh
aktivis Kristen, diberi minuman perangsang lalu diperkosa. Setelah tidak
berdaya, dia dibaptis dan dikristenkan.
Kasus serupa menimpa Linda, siswi SPK Aisyah Padang. Setelah diculik dan
disekap oleh komplotan aktivis Kristen, dia diperlakukan secara tidak
manusiawi dengan teror kejiwaan supaya murtad ke Kristen dan menyembah
Yesus Kristus.
Di Bekasi, modus pemerkosaan dilakukan lebih jahat lagi. Seorang pemuda
Kristen berpura-pura masuk Islam lalu menikahi seorang gadis muslimah yang
salehah. Setelah menikah, mereka mengadakan hubungan suami isteri. Adegan
ranjang yang telah direncanakan, itu foto oleh kawan pemuda Kristen
tersebut. Setelah foto dicetak, kepada muslimah tersebut disodorkan dua
pilihan: “Tetap Islam atau Pindah ke Kristen?”. Kalau tidak pindah ke
Kristen, maka foto-foto talanjang muslimah tersebut akan disebarluaskan.
Karena tidak kuat mental, maka dengan hati berontak muslimah tersebut dibaptis
dongan sangat-sangat terpaksa sekali, untuk menghindari aib.
Di Cipayung Jakarta Tirnur, seorang gadis muslimah yang taat dan
shalehah terpaksa kabur dari rumahnya. Masuk Kristen mengikuti pemuda
gereja yang berhasil menjebaknya dengan tindakan pemerkosaan dan obat-obat
terlarang. Kristenisasi melalui penyebaran Narkoba.
Di desa Langensari, Lembang, Bandung, Yayasan Sekolah Tinggi Theologi
(STT) Doulos meyebarkan Kristen dengan cara merusak moral terlebih dahulu.
Di sana, para pemuda usia 15 tahunan dicekoki minuman keras dan obat-obat
terlarang sampai kecanduan berat. Setelah kecanduan, para pemuda harapan
bangsa itu dimasukkan ke panti rehabilitasi Doulos untuk disembuhkan
sambil dicekoki Injil supaya murtad dari Islam. (Republika, 10 dan 12 April
1999).
Kristenisasi melalui Kesaksian-Kesaksian Palsu via Mantan Muslim
(murtadin) Tahun 1974
GPIB Maranatha Surabaya digegerkan oleh kasus
pelecehan agama oleh Pendeta Kernas Abubakar Masyhur Yusuf Roni. Dalam
ceramahnya, sang pendeta itu mengaku ngaku sebagai mantan kiyai, alumnus
Universitas Islarn Badung dan pernah menjadi juri MTQ
Internasional. Dia tafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara sangat ngawur.
Kaset rekaman ceramah tersebut kemudian diedarkan secara luas kepada umat
Islam.
Setelah diusut tuntas, ternyata pengakuan pendeta itu hanyalah bohong
belaka Yusuf Roni teryata tidak bisa baca Al-Qur’an. Dengan kebohongannya
itu, Pendeta Pembohong Yusuf Roni diganjar penjara 7 tahun di Kalisosok,
Surabaya.
Ketika orang sudah banyak melupakan kasus pelecehan Yusuf Roni, di Jakarta
muncul pelecehan plus seribu dusta yang baru. Seseorang yang menamakan
dirinya Pendeta Hagai Ahmad Maulana mengaku sebagai putra kandung
kesayangan KH. Kosim Nurzeha. Ceramahnya d i gereja pun beredar luas di
kalangan masyarakat. Setelah diselidiki, terkuaklah kebohongan besar
pendeta Hagai Ahmad Maulana. Sebab belum pernah istri KH. Kosim Nurzeha
melahirkan Ahmad Maulana.
Di Padang, trik yang sama dipakai untuk menggoyang akidah umat. Seseorang
yang menamakan dirinya Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah, namanya
menjadi naik daun di dunia pemurtadan Kristenisasi, setelah mangaku adik
kandung ulama besar pakar tafsir, Yang Mulia Almarhum Buya Hamka.
Orang awam banyak yang percaya tanpa cek dan ricek. Langsung yakin begitu
saja dengan pengakuan bahwa adik kandung Buya Hamka itu sudah murtad ke
Kristen.
Setelah diselidiki, ternyata pengakuan itu adalah kebohongan yang sangat
besar. Salah seorang putra Buya Hamka menyatakan bahwa sepanjang hayatnya,
dia tidak pernah punya paman yang namanya Willy Abdul Wadud Karim
Amarullah.
Di Cirebon, murtadin Danu Kholil Dinata Ev. Danu Kholil Dinata alias
Theofilus Daniel alias Amin Al Barokah, mengaku sebagai sarjana agama
Islam, yang pindah menjadi pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa
versi Islam di STAI Cirebon. Setelah dilacak,
ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian adalah PALSU.
Para murtadin pembohong lainnya adalah Drs. H. A. Poernomo Winangun alias
Drs. H. Amos, Ev Hj. Christina Fatimah alias Tin Rustini (nama asli
dikampung Sutini alias Bu Nonot, Pdt. Rudy Muhammad Nurdin, Pdt. M.
Mathius, Pdt. Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epo n Irma F. Intan Duana Paken
Nata Sastranagara (Ev. Ivone Felicia IDp.). Mengaku telah mengkristenkan
60 kiyai Banden, dll. Kristenisasi berkedok sosial di desa-desa terpencil.
Kristenisasi dilancarkan kepada orang-orang miskin sambil menawarkan
makanan (berisi, mie, gula, dll.) secara gratis, obat-obatan, pakaian
bekas, alat-alat pertanian (bibit, pupuk, obat pembunuh serangga), dll.
Setelah orang desa merasakan manfaatnya, maka barulah para misi menyatakan
maksud yang sebenarnya, bahwa mereka itu sebagai pelayan dari Yesus
Kristus. Dan bantuan yang mereka nikmati itu adalah dari Yesus. Maka, mana
yang lebih baik, Islam atau Kristen? Selanjutnya, masyarakat desa
dibaptis. Bagi yang tidak mau masuk Kristen maka dimulailah misi untuk
menggoda iman untuk melemahkan ajaran Islam.
Kristenisasi berkedok Islam, yaitu Memurtadkan Akidah Umat dengan Strategi
‘Srigala Berbulu Domba’.
Dengan memakai idiom-idiom keislaman dalam tata cara peribadatan serta
menerbitkan buku-buku dan brosur (leaflet) berwajah Islam, tapi isinya
memutarbalikan ayat-ayat Al Our’an dan Hadits, untuk mendangkalkan akidah.
Dipermainkannya ayat-ayat ilahi untuk meleceh Islam demi untuk menjunjung
tinggi kekristenan. Tujuan akhirnya, agar kaum muslimin meragukan ajaran
Islam lalu pindah ke Kristen
Dengan Gerakan pemurtadan kristiani yang dikemas dalam wajah Islam,
persoalan dakwah Islamiyah semakin berat. Agresivitas misi Kristen sudah
memasuki tingkat berbahaya. Kaum awam sulit membedakan keislaman dan
kekristenan, sehingga mudah dikaburkan akidah nya.
Bentuk-bentut Kristenisasi yang dikemas dalam wajah Islam, antara lain:
Dengan meniru kebiasaan umat Islam dalam bangunan dan tata cara ritual.
GPIB Padang memakai lambang-lambang Minang dalam bangunan Gereja untuk
merayu orang Minang agar tertarik kepada Kristen.
Di beberapa desa di Yogyakarta, misi Kristen meniru adat kebiasaan umat
Islam, seperti tahlilan, pakai kopiah yang biasa dipakai oleh umat Islam,
mengucapkan salam `Assalamu’alaikum’, dll.
Shalat 7 waktu dengan pakai peci, sajadah, tiwalul Injil dan qasidah versi
Kristen yang dilakukan oleh Kristen sekte Ortodox Syria. Buku-buku yang
diterbitkan antara lain. Kitabus Sholawat as Sab’u, Almasih Juru
Selamatku, Muslim Sahabatku, La ilaha illal lahu, Tauhid dalam perspektif
Gereja Ortodox Syiria, dll.
Melalui berbagai penerbitan Kristenisasi Berkedok Islam
Ada dua target yang ingin dicapai oleh missi dengan penerbitan buku-buku
berwajah Islam.
Pertama, target ke dalam, untuk memantapkan ajaran Kristen. Seoiah-olah
ajaran Kristenlah yang paling benar.
Kedua, target ke luar, untuk mengelabuhi umat Islam yang masih dangkal
pemahamannya, agar mau membaca lalu meyakini doktrin agama Kristan. Ini
sangat ditekankan mereka, sebab mereka melihat bahwa umat Islam awam tidak
sudi membaca buku-buku yang berwajah Kristen.
Daftar berbagai penerbitan kristenisasi berkedok Islam yang ketahuan,
antara lain:
Buku karya Drs. A. Poernarna Winangun: Upacara lbadah Haji, Ayat-ayat Al
Qur’an Yang Menyelamatkan, Isa Alaihis Salam Dalam Pandangan Islam, dan
Riwayat Singkat Putaka Peninggalan Nabi Muhammad saw.
Buku Kristus dan Kristen di Dalam Al-Qur’an (Al Masih Wal Masihiyun Fil
Quur’an) karya Drs. Amin Al Barokah alias Danu Kholil Dinata.
Buku Karya mendiang Hamran Ambrie: Allah Sudah Pilihkan Saya Kasih Buat
Hidup Baru Dalam Yesus Kristus, Keilahian Yesus Kristus dan Allah
tritunggal Yang Esa, Dengan Kasih Kita Jawab, Jawaban Atas Buku Bible
Qur’an dan Science, Dialog Tertulis Islam-Kristen, Surat bari Mesir, Siap
Sedia Menjawab Tantangan Benteng Islam, Sebuah Memori Yang Tak Terlupakan,
dll.
Terbitan Yayasan Jalan Al Rachrnat: Sejarah Naskah Al Qur’an dan Alkitab,
oleh John Gilchrist; Sulitkah Menjadi Orang Kristen, oleh Abdul Masih;
Siapakah Kristus Selayaknya Menurut Anda, oleh Abdul Masih; Sudah
Kutemukan, oleh Iskandar Jadeed; Benarkah Al kitab Dipalsukan, oleh
Iskandar Jadeed; Injil Barnabas Suatu Kesaksian Palsu, oleh Iskandar
Jadeed; Kesempurnaan Taurat dan Injil, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana
Supaya Dosa Diampuni, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Kita Berdoa, oleh
Iskandar Jadeed; Kri stus Menurut Islam dan Kristen, oleh John Gilchrist,
Benarkah Nabi Isa Disalib, oleh John Gilchrist; Allah Itu Esa di Dalam
Tritungga! Yang Kudus, oleh Zachariah Butrus; Selidikilah, Anda Pasti
Selamat, oleh Sultan Muhammad Paul.
Terbitan Yayasan Christian Centre Nehemia: Kerudung Yang Dikoyak, oleh
Gulshan Ester; Seorang Gadis Kristen Mempertanggungjawabkan Imannya, oleh
Nita; Apakah Al Qur’an Benar-benar Wahyu Allah, oleh Ev. J. Litik;
Kebenaran Firman Allah, oleh Pdt. M. Matheu s; Lima Alasan Pokok Tentang
Isi Al Qur’an Yang Menyebabkan Saya Beralih Dari Islam ke Kristen, oleh
Ev. J. Litik; dll.
Karya Pdt. R. Muhammad Nurdin: Ayat-Ayat Penting Di Dalam Al-Qur’an,
Keselamatan Di Dalam Islam, Selamat Natal Menurut Al Qur’an, Kebenaran
Yang Benar (As Shodiqul Mashduuq), Rahasia Allah Yang Paling Besar (As
Sirrullahil Akbar), Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar, Ya
Allah Ya Ruhul Qudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat, Wahyu Tentang Neraka,
Wahyu Keselamatan Allah, dan lain-lain.

Team Front Anti Pemurtadan Bekasi/FAPB dan
Team Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi/GPAPB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar