Kamis, 19 Januari 2012

Kristenisasi Dan Sejarahnya di Kampung Sawah-Pondok Gede, Bekasi

Pengertian Kristenisasi
Kristenisasi adalah usaha mengajak masyarakat untuk masuk agama Kristen, baik dengan cara terang-terangan maupun dengan cara terselubung (Shalih, 1999). Sedangkan Al Barry (1994:380), Kristenisasi adalah pengkristenan (orang-orang) atau gerakan untuk mengkristenkan umat manusia. Sementara Samuel Zwemmer (Ketua Asosiasi Agen Yahudi), kristenisasi adalah upaya pengkristenan pemeluk suatu agama (dalam hal ini umat Islam) dengan cara penghancuran dan pembinaan. Cara penghancuran adalah mengeluarkan orang Islam dari agamanya, walaupun dia menjadi Atheis yang penting keluar dari Islam dan cara pembinaan adalah dengan membina dan memasukkan orang Islam ke dalam agama Kristen (Tim Fakta, 2002)
Dalam sejarah tercatat, kristenisasi adalah gerakan keagamaan yang bersifat politis kolonialis yang muncul akibat kegagalan perang salib sebagai upaya penyebaran agama Kristen ketengah-tengah bangsa di dunia ketiga, terutama di tengah-tengah umat Islam (WAMY, 2002). Sebenarnya agama Kristen hanyalah merupakan agama untuk bangsa Israel semata-semata, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Isa ‘Alaihi Salam dalam sabdanya:
Aku tiada dating, kecuali hanya untuk menyelamatkan domba-domba yang sesat di kalangan Bani Israel” (Injil Mathew Ashah 1 bilangan 6 dalam Shalih, 1999:47)
Kemudian Nabi Isa mengirim murid-muridnya untuk mengajak berbagai kelompok masyarakat pada zamannya dengan sabdanya:
Janganlah kalian teruskan, dan jangan kalian masuk (kepada bangsa lain), tetapi pergilah untuk menyelamatkan domba-domba yang sesat dirumah Israel” (Injil Mathew Ashah 1 bilangan 6 dalam Shalih, 1999)

Sejarah Kristenisasi

Sejarah awal Kristenisasi dan Para Tokohnya
Pada awal abad pertama Masehi timbul sengketa di kalangan pengikut Isa Al Masih tentang apakah ajaran Yesus perlu disiarkan untuk selain Yahudi (Gentiles) atau hanya untuk bangsa Yahudi. Rasul-rasul resmi Yesus yakni Petrus dan kawan-kawan berpendapat bahwa ajaran Yesus hanya untuk bangsa Israel saja, tidak untuk selain Israel. Sedangkan Paulus seorang seorang Rasul Nasrani yang tidak pernah bertemu dengan Yesus berpendapat bahwa ajaran Yesus perlu disiarkan juga untuk selain Yahudi. Pendapat Paulus akhirnya menang, dan bukan itu saja bahkan Paulus dengan beraninya “menyalahi” ajaran Yesus dan lain-lainnya. Dimana pendapat itu hampir memenuhi seluruh perjanjian Baru[1] (Bakry, 1979)
Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai mendakwahkan Islam di tahun 612 Masehi agama Kristen ketika itu telah tersiar mantap di seluruh Eropa Selatan, Barat dan Timur, Asia Barat dan Afrika Utara. Dalam waktu yang relatif singkat Asia Barat dan Afrika Utara telah ditarik kepada Islam, sedangkan Kristen meluaskan siarannya ke Eropa Utara (Jerman dan Skandinavia). Akhirnya pertempuran tidak dapat dihindari terjadi yaitu di Sepanyol dan perang salib hingga tujuh kali pertempuran (Bakry, 1979). Perang salib pertama (1095-1100) terjadi di kota kecil Worms terletak antara kota Manheim dan Mainz di Jerman, disinilah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang Yahudi, yang dipimpin oleh pangeran Emich von Leiningen, kepada mereka pangeran Emich memberi dua opsi mati atau menjadi Kristen (Maulani, 2002) dalam perang salib tersebut kaum Kristen ingin merebut kota suci Jerusalem dari tangan kaum Muslimin, namun pada akhirnya mereka gagal dan peperangan dimenangkan oleh kaum Muslimin. Perang salib telah berlangsung selama 125 tahun, sejak tahun 1096 sampai berakhir tahun 1221 (Maulani, 2002)
Setelah Barat gagal menggunakan kekuatan bersenjata dalam menghancurkan kaum Muslimin, maka kemudian mereka mengubah strategi dan siasatnya melalui program kristenisasi. Program ini merupakan kelanjutan dari perang salib yang dipelopori oleh tokoh-tokoh Barat Kristen (Shalih, 1999) mereka itu antara lain :
  1. Lois IX dari Perancis. Ia telah memimpin perang salib untuk menghancurkan kaum Muslimin, tetapi gagal dan bahkan dia sendiri tertawan dan mati terbunuh. Dalam masa tawanannya dia menyadari bahwa perlunya mengubah strategi untuk menghancurkan Islam. Ia menganjurkan adanya program kristenisasi dan mengusulkan kepada Paus Anusant IV agar mengadakan konggres kristenisasi yang kemudian diselenggarakan pertama kalinya pada tahun 1253 M.
  2. Roger Bacon (1214-1293) M. dia menyerukan kepada Barat perlunya mempelajari bahasa Arab untuk melapangkan jalan bagi usaha kristenisasi di dunia Islam.
  3. Raymond Lol (1235-1316M) termasuk salah satu tokoh Kristen yang getol menggalakkan program kristenisasi, maka ia dengan sungguh-sungguh telah mempelajari bahasa Arab secara mendalam dan menjelajah Negara-negara Islam (Shalih, 1990)
  4. David Livingstone (1813-1873), seorang pelancong Inggris dan dia dikenal sebagai seorang penginjil
  5. Samuel Zwemmer, Ketua misi Kristen untuk Negara-negara Arab di Bahrain dan ketua persekutuan Kristen di Timur Tengah. Ia termasuk salah satu tokoh misionaris senior di abad modern ini.
  6. Louis Massignon, sebagai penasehat kristenisasi di Mesir (WAMY, 2003)
Sejarah Kristenisasi di Indonesia
Pada tahun 1521, lima kapal Portugis dengan tiga ratus anak buah datang ke Maluku untuk mendirikan benteng. Misi Katolik yang didirikan oleh orang-orang Portugal pada tahun 1522 telah berhasil, tetapi kemudian penyiarannya terhambat karena mendapat banyak perlawanan yang dipimpin oleh Sultan Ternate dan Sultan Tidore. Pada tahun 1568 Kristen mulai disiarkan di Minahasa dan sangir Talaud, hingga akhir abad ke-16 mereka sudah mempunyai gereja di daerah-daerah tersebut.
Kedatangan kapal-kapal dagang Belanda pada abad 17 yang terorganisir dalam VOC (Verenidge Oostindische Compagnie) menjadikan penyiaran Kristen lebih berhasil, karena pada saat itu penduduk muslim jumlahnya masih sedikit dan dakwah Islam belum menyebar secara luas. Banyak gereja berdiri di wilayah-wilayah yang di duduki VOC, seperti Ambon, Bandaneira, Kepulauan Laut Arafuru, Banda, Maluku Utara, Minahasa dan Sangir Talaud. Tempat konsolidasi Kristen pada abad 17 berada di Timor, Nusa Tennggara dan daerah sekitar Jakarta. Namun konsolidasi Kristen itu mendapat hambatan dikarenakan hal itu mempersulit pendidikan pemimpin gereja dari kalangan pribumi. Selain orang Eropa sangat sulit mendapatkan tempat, sebab kriteria yang diajukan bagi seorang pendeta agaknya hanya ditetapkan menurut ukuran Belanda (Kruger dalam Bakry, 1979)
Ada dua factor yang menyebabkan penyiaran Kristen di masa kolonial Belanda menjadi lebih efektif, baik dalam arti konsolidasi antar pengikut Kristen maupun dalam arti zending dan misi. Dua faktor tersebut adalah:
  1. Munculnya gerakan Protestan di Eropa dibawah pemerintah Belanda yang telah resmi menganut gereja Protestan.
  2. Munculnya Lembaga Penyiaran Kristen yang terorganisir dengan baik. Lembaga-lembaga penyiaran Kristen yang telah muncul di Indonesia pada saat itu antara lain adalah :
- Balai Al Kitab Indonesia, didirikan di Jakarta pada tahun 1814
- Perkumpulan Pembantu Pekabaran Injil, didirikan di Jakarta pada tahun 1815
- Perkumpulan Pembantu Pekabaran Injil di Ambon, didirikan pada tahun 1821
- Perkumpulan Pembantu Pekabaran Injil di Timor, didirikan pada tahun 1823
- Perkumpulan Pembantu Pekabaran Injil di Surabaya, didirikan pada tahun 1815
- Perkumpulan untuk Pekabaran Injil di Dalam dan Luar Gereja, didirikan di Jakarta pada tahun 1851.
Setelah tahun 1800 para misionaris berhasil mendapat pengikut di beberapa wilayah, seperti Tapanuli Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kepulauan Nias, Mentawai, Enggano dan Pulau Jawa. Di wilayah-wilayah tersebut terdapat penduduk yang menganut agama Kristen, terutama Protestan.
Kemenangan VOC atas Spanyol dan Portugis di Indonesia menyebabkan terhentinya penyebaran agama Kristen Roma Katolik, karena bangsa Spanyol dan Portugis menganut agama Kriosten Roma Katolik sedangkan Belanda menganut agama Protestan. Belanda mengusir mereka dan melarang penyebaran agama Katolik, kemudian menjadikan Protestan sebagai gantinya. Tujuan orang-orang Belanda itu ingin melenyapkan agama Katolik, baik di negeri Belanda sendiri maupun di daerah jajahannya (Embuiru dalam Bakry, 1979). Meski kondisinya demikian, tetap masih ada pengikut Katolik dan mereka memiliki imam Katolik yang secara diam-diam saling tolong menolong.
Jika dalam suatu negeri terdapat misi Katolik, maka segala usaha misi diatur langsung oleh pusat misi di Roma yang bernama Congregatio de Propaganda Fide (Komisi untuk menyiarkan Iman). Langkah yang ditempuh pertama kali ketika mereka memasuki daerah baru adalah mendirikan prefektur-Apostolis, dipimpin oleh seorang Padri yang disebut Prefek-Apostolis. Apabila usaha misi telah berkembang dengan baik, maka Prefektur tersebut ditetapkan menjadi vikariat-Apostolis. Pada tahun 1826 organisasi tersebut pernah berlaku di Indonesia ketika Paus menetapkan Prefektur-Apostolis pertama di sana. Persengkataan antara pemerintah Belanda dengan gereja Roma Katolik berakhir pada tahun 1847, ketika gereja Roma Katolik diakui berdaulat. Setelah itu, Kristen Katolik dan Protestan semakin berkembang di Indonesia (Bakry, 1979)
Salah satu tempat di daerah Jawa Barat yang menjadi pusat penyebaran Kristen adalah Kampung Sawah, desa ini terletak di tapal batas Jakarta-Jawa Barat Kampung Sawah, Pondok Melati-Jati Sampurna, Bekasi.
Dari beberapa sumber didapat keterangan bahwa Kampung Sawah zaman dulu adalah “daerah pembuangan”. Di sanalah pan buionan kriminal menyembunyikan diri. Itu terjadi pada masa V.O.C. (Veitangde Oast Inttische Compagnie), (1602-1799). ( Sabili:Mei 2004, wawancara KH. Rahmadin )
Komunitas Kristen Kampung Sawah bermula dari kelompok Modjowarno yang datang dari Jawa dan pindah ke Jawa Barat terdapat kakek dari Bapa Dradjat Madjan, pendeta jemaat Gereja Pasundan Kampung Sawah pada akhir abad ke-20; sang kakek belum dibaptis ketika datang ke kampong ini; ia ikut sebagai simpatisan. Di antara kelompok Bondo terdapat Bapa Beny Kidirnan, cucu dari Kyai Ibrahim Tunggal Wulung, yang kemudian men­jadi seorang aktivis Gereja Katolik di Kampung Sawah. Maka selanjutnya di Kampung Sawah mulai terbentuk sebuah kornunitas Kristen yang bersifat unik. Kelompok pendatang yang masih berbahasa Jawa mesti menyesuaikan diri dengan situasi baru yang serba sulit; menyesuaikan diri juga dengan kelompok Beta­wi yang berbahasa Melayu dan terdiri atas gado-gado pelbagai kebudayaan dan keturunan.
Gambar dari Gereja Servatius
Foto Kristenisasi pada zaman Belanda
Tradisi Sedekah Bumi di gereja Kampung Sawah
Jemaat Kampung Sawah
REFERENSI:
Bakry, Prof. Drs. H. Hasbullah. 1997. Suatu Perbandingan Mengenai Penyiaran Kristen dan Islam. Jakarta : Bulan Bintang.
Dakwah, Majalah Media. 1991. Fakta dan Data Usaha-usaha Kristenisasi di Indonesia. Jakarta : Majalah Media Dakwah.
Shalih, Dr. Sa’duddin As Sayyid. 1999. Jaringan Konspirasi Menentang Islam (terjemahan). Yogyakarta : Wihdah Press.
TIM FAKTA. 2006. Senjata Menghadapi Pemurtadan Berkedok Islam. Jakarta : Pustaka Al Kautsar.
Kastor, Rustam. 2000. Fakta, Data dan Analisa Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan umat Islam di Ambon-Maluku. Yogyakarta : Wihdah Press
Created By:
Team Front Anti Pemurtadan Bekasi/FAPB dan
Team Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi/GPAPB

[1] Bakry, Prof. Drs. H. Hasbullah. 1997. Suatu Perbandingan Mengenai Penyiaran Kristen dan islam. Jakarta : Bulan Bintang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar