Kamis, 12 Januari 2012

PERINGATAN UNTUK MENGHANCURKAN GEREJA


Segala Puja dan puji hanya milik Alloh Ta’ala. kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampun kepada-Nya, kta berlindung kepada-Nya dari keburukan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh Azza wa Jalla, maka tidak ada yang memberi petunjuk kepadanya. Kita bersaksi tidak ada yang berhaq disembah melainkan Alloh satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi bahwa Rasululloh Muhammad Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du.



“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. [ QS. Ali ‘Imran: 102]

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu". [QS. An-Nisaa': 1]


"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar". [QS. Al-Ahzaab: 70-71]
“ Sebaik-baik petunjuk ialah Kitabullah (Al-Qur’an), serta sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Rasulullah yakni Sunnahnya, dan seburuk-buruk perbuatan dan perkataan ialah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan ialah Bid’ah dan setiap KeBid’ahan itu sesat serta setiap kesesatan itu ialah tempatnya di dalam Naar (Neraka) “.


Para shahabat Ridwanulloh Ajmain meriwayatkan larangan pendirian gereja di negeri Islam yang penduduknya kaum Muslimin atau kaum Muslimin memasuki negeri tersebut dengan kekerasan.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ma’mar, ia berkata :
Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada Urwah bin Muhammad agar dia menghancurkan gereja yang berada di tengah-tengah kaum Muslimin. Dia berkata : “Saya melihat Urwah bin Muhammad menghancurkan sebuah gereja di Shan’a-Yaman”. (Hadits ini dikutip juga oleh Ibnu Qayyim dalam Kitab Ahkaamu Ahlidz Dzimmah).

Al-Imam Ibnu Imam Ahmad Rahimahulloh mengatakan :
“Apabila gereja-gereja tersebut berada di negeri yang berdamai dengan kaum Muslimin maka dibiarkan. Adapun jika gereja-gereja tersebut berada di negeri yang ditaklukkan dengan kekerasan maka jangan dibiarkan. Mereka tidak boleh membuat gereja atau wihara yang sebelumnya tidak ada. Mereka juga tidak boleh membunyikan lonceng, menaikkan salib, menampakkan babi, menyalakan api (sebagai tempat ibadahnya orang-orang Majusi), dan lainnya yang dibolehkan dalam agama mereka. Mereka dilarang melakukan itu semua dan tidak boleh dibiarkan begitu saja”.

Saya (perawi) berkata kepada Imam Ahmad : “Apa boleh kaum Muslimin melarangnya?” Beliau menjawab : “Ya, wajib bagi pemimpin kaum Muslimin untuk melarang mereka dari hal itu, penguasa harus bisa mencegah mereka dari melakukan (ajaran yang dibolehkan dalam agama mereka) bila negeri mereka ditaklukkan dengan kekerasan”. (Ibnu Qayyim, Ahkaamu Ahlidz Dzimmah II:692)

Dalam Kitab Siraajul Muluuk yang ditulisnya, Al-Imam Abu Bakar Ath Thurthusyi meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab memerintahkan untuk menghancurkan gereja-gereja, dan menyebutkan bahwa Urwah bin Muhammad juga menghancurkan sebuah gereja di Shan’a. Kemudian Ath Thurthusyi mengatakan :

“ Ini adalah pendapat ulama Islam seluruhnya. Umar bin Abdul Aziz bersikap keras dalam perkara ini dan beliau memerintahkan agar jangan membiarkan di negeri Islam ada sebuah wihara atau gereja secara mutlak, baik yang sudah lama maupun yang belum lama. Hasan Al Basri mengatakan : ‘Termasuk dari sunnah adalah menghancurkan gereja yang berada di daerah kaum Muslimin baik masih baru maupun yang sudah lama dan bagi Ahli Dzimmah dilarang untuk membangun apa yang sudah dihancurkan”. (Syaikh Yahya Al Anshari dalam Kitab Hukmu Binaa’il Kanaa’isi wal Mu’aabadisy Syirkiyyah fii Bilaadil Mualimiin halaman 56-57).

Al-Imam Ibnu Qayyim Rahimahulloh dalam Kitab Ahkaamu Ahlidz Dzimmah bagi wilayah yang dihuni Kafir Dzimmi dan Mu’ahad menjadi tiga macam. Pertama, wilayah yang dibangun oleh kaum Muslimin pada Islam. Kedua, wilayah yang dibangun sebelum Islam lalu ditaklukkan oleh kaum Muslimin dengan kekerasan lantas mereka menguasai tanah dan menghuninya. Ketiga, wilayah yang dibangun sebelum Islam lalu ditaklukkan oleh kaum Muslimin dengan damai.
Ibnu Qayyim melanjutkan perkataannya : “Adapun contoh yang pertama adalah Basra, Kufah, Wasith, Baghdad, dan Kairo.” Kemudian ia membicarakan masalah awal mula munculnya negeri-negeri tersebut dengan mengatakan :

“ Maka negeri tersebut murni milik imam jika ia berkehendak untuk mengakui Ahludz Dzimmah dengan mengambil pajak maka itu boleh. Jika penguasa mengakui mereka untuk membangun gereja atau wihara atau menampakkan dengan terang-terangan minuman keras, babi, atau lonceng maka itu tidak boleh. Jika ia memberikan syarat dan ikatan janji dengan hal yang demikian maka syarat dan ikatan itu rusak. Inilah yang telah disepakati oleh kaum Muslimin tanpa ada perbedaan lagi ”. (Ibnu Qayyim, Ahkaamu Ahlidz Dzimmah || Ismail Al Anshari, Ahkamul Kanaa’is halaman 63-64).

Para ulama mutaqaddimin yang lain juga banyak berbicara dalam hal ini. Syaikh Ibnu Taimiyah Rahimahulloh mengupasnya dalam Kitab Majmuu’ Fataawaa, As Subki dalam fatwa-fatwanya, dan masih banyak lagi. Sedangkan ulama zaman sekarang yang menyoroti masalah ini adalah Syaikh Ismail Al Anshari dalam risalahnya yang sangat berfaedah dan telah diperbanyak oleh Ketua Umum Majelis Fatwa Saudi. Dalam kata pengantarnya, Syaikh Bin Baz Rahimahulloh mengatakan sebagai berikut :

“ Para ulama rahimahumulloh telah sepakat tentang haramnya membangun gereja di negeri Islam dan wajib untuk menghancurkannya jika ada yang membangunnya. Bahkan membangun gereja di jazirah Arab seperti di Najed, Hijaz, negara-negara teluk dan Yaman maka dosa dan kejahatannya lebih besar lagi karena Rasululloh ShallAllohu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk mengusir orang-orang Yahudi, Kristen, dan kaum musyrikin dari jazirah Arab. Beliau juga melarang adanya dua agama tersebut beserta pengikutnya di jazirah Arab.

Tatkala Umar memegang kekhilafahan maka beliau segera mengusir orang-orang Yahudi dari Khaibar sebagai bentuk ketaatannya kepada sunnah ini. Alasan lainnya adalah karena jazirah Arab adalah tempat lahirnya Islam, tempat bertolaknya para dai Islam, serta tempat kiblat kaum Muslimin. Maka dilarang keras membangun rumah peribadatan kepada selain Alloh sebagaimana dilarangnya seseorang yang beribadah kepada selain Alloh menetap di negeri tersebut.


Diambil dari Berbagai Sumber bacaan terutama Buku Awas Kristenisasi&Bahaya Seruan Sinkretisme Agama, Penulis: Lajnah Ad Da’imah (Divisi Penelitian Ilmiah dan Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi). Terbitan: Darul Ilmi Cetakan Pertama Oktober 2005, Sukoharjo-Ngaglik, Sleman dan Buku Menggentarkan Musuh-Musuh Islam, Penulis: Syaikh Al-'Allamah Abdul Qadir bin Abdul Aziz, Terbitan: Senyum Media, Cetakan Pertama November 2007, Jakarta dan Penulusuran di Internet dengan sedikit perubahan redaksi.

Bekasi, 12 Januari 2012

Abu Jundulloh Muhammad Faisal, SPd. M.MPd
(PEMBINA Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi/GPAPB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar