Rabu, 18 Juli 2012

FATWA SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH Rahimahulloh Ta’ala TENTANG KEHARUSAN MEMBUNUH PENDETA/MUSUH ALLOH

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS1j8AJMlthVgcDsiFjgBQe3FSn0gTljdLCYkPGKWhKayqlwnkE3A

Beliau ditanya tentang para rahib (pendeta) yang terlibat urusan duniawi dengan manusia. Mereka berniaga, bercocok tanam…serta perkara-perkara lainnya yang dilakukan oleh manusia yang ada pada mereka saat ini. …

Jawaban :
Alhamdulillah, para rahib (pendeta) yang dipertentangankan oleh para ulama’ perihal membunuh mereka dan mengambil jizyah dari mereka adalah mereka yang tersebut dalam hadits yang diriwayatkan dari Kholifah Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam Al Imam Abu Bakar Ash Shiddiq RodhiyAllohu ‘anhu bahwasanya beliau ShallAllohu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada Yazid bin Abi Sofyan RodhiyAllohu ‘anhu tatkala mengutusnya sebagai Amir dalam penaklukan Syam. Beliau ShallAllohu ‘alaihi wa sallam katakan kepadanya : “Dan engkau akan dapati beberapa kaum yang telah mengucilkan diri mereka di biara-biara, maka biarkanlah mereka…dan akan engkau dapati pula beberapa kaum yang membelah dari tengah kepala mereka, maka pancunglah mereka dengan pedang”. Hal itu sebab Alloh Ta’ala berfirman : “Maka perangilah pemimpin-pemimpin kekafiran. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya agar mereka berhenti” (QS At Taubah)

Akan tetapi DILARANGnya membunuh mereka, sebab mereka adalah kaum yang telah MEMUTUSKAN DIRI DARI MANUSIA, MEMENJARAKAN DIRI MEREKA DI BIARA-BIARA. Seorang mereka disebut Habiis (orang yang memenjara diri). Mereka sama sekali tidak menyokong pemeluk agamanya dalam perkara yang menimbulkan madhorot atas kaum muslimin dan tidak pula membaur dengan dunia mereka. Akan tetapi salah seorang mereka mencukupkan diri dengan bekalan hidup ala kadarnya. Maka para ulama’ berselisih perihal membunuh mereka sebagaimana perselisihan mereka perihal membunuh orang yang tidak dapat membahayakan kaum muslimin baik dengan tangan maupun lisannya, seperti orang buta, sakit menahun, lanjut usia dan semisalnya seperti wanita dan anak-anak.

Jumhur menyatakan : TIDAK BOLEH dibunuh kecuali yang termasuk menyokong mereka dalam perang secara umum. Kalau tidak (termasuk yang menyokong, pent-) berarti seperti wanita dan anak-anak. Diantara ulama ada yang menyatakan : bahkan sekedar kekufuran sudah membolehkan untuk dibunuh. Adapun dikecualikannya wanita dan anak-anak hanyalah lantaran mereka sebagai harta. Berdasar ini terbangun perkara pengambilan jizyah.

Adapun rahib yang menyokong pemeluk agamanya dengan tangan dan lisannya seperti ia punya ide yang mereka jadikan rujukan dalam perang, atau semacam provokator maka orang ini diBUNUH menurut kesepakatan ULAMA jika dapat dikuasai, dan diambil Jizyah darinya sekalipun dia mengucilkan diri di tempat ibadahnya. Lantas bagaimana halnya dengan mereka (PARA PENDETA) yang telah SAMA DENGAN ORANG ORANG NASHARA UMUMNYA DALAM CARA HIDUP, MEMBAUR DENGAN MANUSIA, MENGUMPULKAN KEKAYAAN DENGAN PERNIAGAAN, COCOK TANAM, PRODUKSI, MENGAMBIL BIARAWATI UNTUK BERHUBUNGAN DENGAN ORANG LAIN. Para rahib/pendeta itu punya perbedaan dengan selain mereka lantaran kekufuran mereka yang lebih keras yang menjadikan mereka sebagai AIMMATUL KUFRI (pemimpin-pemimpin kekufuran) seperti melakukan ritual ibadah dengan barang-barang najis, meninggalkan nikah, daging dan pakaian yang itu merupakan syiar kafir. Apalagi merekalah yang menegakkan agama Nasrani dengan tipu daya-tipu daya bathil mereka yang dibuat kitab-kitab karangan dengan ritual-ritual peribadatan rusak, menerima nadzar dan wakaf mereka.

Rahib menurut mereka syaratnya hanyalah meninggalkan NIKAH. Meskipun demikian ini orang orang Nashrani membolehkan mereka (rahib) untuk menjadi Pastor, pendeta, biarawati dan bentuk pemimpin pemimpin kekufuran lainnya yang dapat menyodorkan perintah dan larangan. Mereka juga berhak mencari kekayaan sebagaimana orang Nashrani/Kristen maupun Yahudi lain seperti itu. Maka pendeta pendeta itu TIDAK DIPERSELISIHKAN oleh para Ulama bahwa merekalah kalangan Nashrani yang LEBIH DAHULU BERHAK UNTUK DIBUNUH ketika berlaku hukum Harby. Dan diambil Jizyah ketika ia menyerahkan diri (kepada Daulah Islamiyah). Mereka termasuk dari jenis DEDENGKOT dedengkot kafir yang dinyatakan oleh Abu Bakar As-Shidiq RadhiyAllohu ‘anhu dengan menyertir Firman Alloh ta’ala: “ Maka perangilah dedengkot dedengkot kafir”. Hal itu lebih dijelaskan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan firmanNya : “Sesungguhnya kebanyakan dari orang alim dan rahib rahib memakan harta manusia dengan cara bathil dan MENGHALANGI DARI JALAN ALLOH”. Alloh Ta’ala berfirman : “Mereka mengambil orang orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Alloh dan juga Masih bin Maryam. Mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah satu Ilah. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia (Alloh SWT-red), Maha Suci Alloh dari apa yang mereka sekutukan”.

Maka adakah seorang Ulama yang berkata : “Sesungguhnya Dedengkot dedengkot kafir yang menghalangi kalangan awamnya dari Jalan Alloh, memakan harta manusia dengan cara Bathil dan rela dijadikan tuhan selain Alloh bahwa mereka tidak boleh dibunuh dan tidak boleh diambil Jizyah dari mereka. Padahal Jizyah tersebut diambil dari kalangan awam yang relatif lebih sedikit bahayanya terhadap Diin dibanding mereka dan relatif lebih sedikit hartanya”. PERKATAAN INI TIDAK MUNGKIN DILONTARKAN OLEH ORANG YANG MASIH SADAR APA YANG DIKATAKANNYA.

Hanyasanya memang terjadi Syubhat disebabkan keumuman dan maksud ganda pada lafal “rahib”. Dan telah kami jelaskan bahwa atsar yang tersebut statusnya MUQAYYAD (terikat dengan syarat) lagi terkhususkan. Yang itu menjelaskan hukum marfu’ padanya. Para Ulama bersepakat bahwa alasan larangan (membunuh rahib) adalah sebagaimana yang kami jelaskan.

Diambil dari Rujukkan : Kitab MAJMU’ FATAWA JUZ XXVIII/659-662
Bumi Alloh, 19 Juli 2012 M

Team Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi/GPAPB
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSEMWgyh8iaL0g1EJLypSmH8NBQHe5Fw4_x-_A3tQ4faZiboYipoQ
Foto Kasus Formasi Salib di Masjid Agung Al-Barkah Bekasi



Silahkan Share/Sebarkan Risalah ini ke Muslim dan Muslimah Lainnya…!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar